Saturday, June 30, 2012

SAKIT YA? SAMA-SAMA..



Nasi goreng di piringku belum sepenuhnya habis. Ternyata menangis dapat juga mengenyangkan. Aku mengambil cermin kecil dari kotak make-up di tasku. Astaga, mataku merah dan bengkak. Sudah berapa lama aku menangis?. Kuperhatikan sekelilingku. Semoga saja tidak ada yang memperhatikan kalau ada wanita bodoh yang makan nasi goreng sambil menangis. Selain Sandra tentunya.

Saat aku akan beranjak dari meja nomor 5 menuju kasir untuk membayar pesananku, mataku tertuju pada seorang wanita yang baru saja masuk. Matanya mencari-cari tempat yang kosong, kemudian berbinar seketika saat melihatku akan beranjak pergi. Aku terpana sesaat. Sepertinya aku pernah melihatnya..

"Udah mau selesai ya say?" tiba-tiba saja Ia sudah berdiri di hadapanku. Cantik tentu saja, rambutnya digelung dan dibiarkannya anak-anak rambut di sekitar telinganya terurai. Pakaiannya modis tapi sederhana. Ia tersenyum ramah padaku.

"Ah iya baru mau bayar.. silahkan" Aku tersadar dari lamunanku. Kemudian mempersilahkannya menggantikanku menempati meja itu. Aku segera berlalu menuju kasir.

Sambil membayar pesananku, aku berpikir keras. Rasanya aku pernah melihat wanita itu entah dimana. Kuperhatikan lagi sosoknya dengan penasaran. Ah, aku ingat! Laviosa.. ya, dia Laviosa. Aku pernah melihatnya saat upacara kelulusan, Dani pernah mengenalkannya padaku.

Hatiku sedikit bergejolak. Wanita itu tega-teganya meninggalkan Dani sehari sebelum hari pernikahan mereka. Bahkan gara-gara dia, Dani meninggalkanku. Biarpun Dani telah menyakiti hatiku tapi tetap saja aku tak rela jika ada yang menyakitinya.

Untungnya, otakku masih berpikir waras. Kuurungkan niatku untuk menghampiri wanita itu dan melabraknya. Lagipula bisa saja ingatanku salah. Siapa tahu dia bukan Laviosa, hanya mirip saja.

"Maya.."

Seseorang menepuk pundakku saat aku akan mendorong pintu kafe.

Wanita itu!

Aku memandangnya heran. Darimana ia tahu namaku?

"Ini, map kamu ketinggalan di meja. Aku lihat nama kamu di situ.." Wanita itu memberikan map putih yang berisikan catatan-catatan kuliahku. Aku mengambilnya seraya mengangguk berterimakasih.

"Kamu.. Maya-nya Dani ya? Maya Karlina?" kata-kata Wanita itu mengejutkanku lagi.

"Aku liat nama panjang kamu di situ.." Ia menunjuk map putih yang kini kudekap di dadaku. "Kita pernah ketemu sekali juga kan kalau ga salah.. dan aku pernah liat nama kamu di blackberry Dani, tunanganku.."

"Tunangan? Bukannya kamu ninggalin dia sehari sebelum pernikahan?" semprotku sebelum wanita itu menyelesaikan kata-katanya. Air mukanya berubah saat mendengar tuduhanku. Tapi kemudian ia cepat mengendalikannya.

"Iya, aku Laviosa.." Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku mengacuhkannya.

"Hmm.. gimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu say? Kamu harus dengar ceritaku dulu baru kamu boleh mengomentariku apa saja.."

Ia merangkul bahuku lalu menuntunku kembali ke meja tempat kami bertemu tadi. Herannya aku tidak menolak.

Saat kami duduk, Sandra membawakan pesanan Laviosa. Sandra memandangku dengan penuh tanya. Aku hanya memelototinya sebagai isyarat "jangan mulai kepo deh". Lalu ia segera berlalu.

"Aku pesenin kamu minum ya, May.. Masa kamu ngeliatin aku makan aja.."

"Eh ga usah repot.. aku kan tadi abis makan. Lagian aku lebih penasaran sama cerita kamu."

Laviosa tertawa. "Beneran nih? Aku pikir kamu abis nangis.. Soalnya mata kamu bengkak banget tuh"

Ketahuan deh! Wajahku memerah malu.

"Dani tuh emang hobi bikin cewek nangis ya.." kata Laviosa. Kemudian ia pun menceritakan kisahnya dengan Dani sambil sesekali menyuap nasi goreng seafood nya.

Jadi sebelum bertemu Dani sebenarnya Laviosa sudah memiliki kekasih, hubungan mereka pun telah berjalan lama. Sampai akhirnya Laviosa bertemu Dani di sebuah acara perusahaan. Mereka berkenalan dan entah bagaimana mereka jadi dekat. Tapi Laviosa benar-benar tak punya perasaan apa-apa pada Dani. Malah Dani yang selalu mengejar-ngejarnya.

"Aku tuh cinta banget sama Ferdi, pacarku waktu itu May.. Aku berani sumpah aku ga ada perasaan apa-apa sama Dani. Apalagi aku pernah ga sengaja baca pesan-pesan dari kamu di blackberry dia. Aku jadi mikir kalian punya hubungan istimewa." kata Laviosa setelah meneguk es jeruknya.

Saat Dani menyatakan perasaannya, Laviosa tentu saja menolaknya dan mengatakan ia masih mencintai Ferdi. Ternyata kedekatan mereka selama ini disalahartikan Dani. Dani pun sakit hati. Ia pun melakukan berbagai cara. Ternyata diam-diam ia lewat orang tuanya menekan perusahaan orang tua Laviosa sehingga Laviosa terpaksa menerima lamaran Dani.

"Aku ga bisa nolak May.. Aku udah kasih berbagai alasan, tapi dia ga peduli. Malah dia bilang, jadi setelah Maya kamu mau ninggalin aku juga?"

Aku terkejut mendengar penuturan Laviosa. "Dani bilang sama aku, kalau dia udah tunangan sama kamu jadi ga bisa nerusin hubungannya sama aku.."

Laviosa mendengus kesal. "Itu bisa-bisanya dia buat alasan May!"

Setelah itu mulailah persiapan pernikahan. Tapi Laviosa masih belum memutuskan Ferdi, ia juga belum menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Ferdi.

"Aku bingung May harus bilang apa sama Ferdi.. Aku ga sanggup ngomong sama dia.." suara Laviosa bergetar menahan tangis.

Saat itu Laviosa pikir 'tekanan' dari Dani akan berakhir karena Laviosa telah menerima lamarannya. Ternyata tidak. Sudah tunangan pun Dani masih sering menyebut-nyebut nama Maya, juga mengatakan masih mencintai Maya.

"Aku ga pernah bales kalo dia kayak gitu.."kataku.

"Aku tahu kok May.." Laviosa menghela napas.

Dani bilang itu ia lakukan karena Laviosa juga masih mencintai Ferdi. Sampai akhirnya sehari sebelum pernikahan Laviosa mendengar Ferdi kecelakaan dan terluka parah. Laviosa pun panik dan kabur dari rumah.

"Tapi Ferdi.. Ferdi ga bisa diselamatkan May.. Kemudian aku tahu kalau yang nabrak mobil Ferdi itu Dani yang lagi mabuk.."

Kali ini Laviosa tak lagi dapat menahan tangisnya. Aku jadi serba salah. Otakku serasa penuh harus mencerna cerita versi Laviosa ini. Kenapa Dani jadi terlihat jahat sekali. Aku jadi kasihan pada Laviosa. Gara-gara Dani ia harus kehilangan Ferdi, lelaki yang dicintainya, selamanya.

"Sakit ya May.." Dengan berurai air mata Laviosa memandangku sambil mendekap dadanya.

"Sama.." jawabku namun hanya tertahan di ujung bibirku.

Aku tak mampu berkata-kata.



~Ini cerita lanjutan untuk buku yang saya mulai di volpen.com judulnya "Love is (not) you". Bisa dibaca di sini

Wednesday, June 27, 2012

TESTIMONI UNTUK #15HARINGEBLOGFF2

15 terlewati sudah tanpa terasa. Ya, #15HariNgeBlogFF2 selesai juga. Senang sekaligus sedih karena setelah ini blog saya mati suri lagi deh haha *dikeplak masmin dan yumin #15Hari*

Waktu denger ada #15hariNgeBlogFF2 saya langsung excited banget. Sebelumnya saya juga salah satu pasukan #15HariNgeBlogFF1 walaupun ga genap 15 hari ikutan. Tapi dari situ saya menemukan lagi dunia saya yang sempat tenggelam. Bayangkan, saya sampai bikin blog baru demi ikutan event tersebut (tentang  #15HariNgeBlogFF1 baca di sini). Selesai 15 hari, saya jadi rajin mengisi blog saya walaupun ga rutin. Dari situ juga saya mendapat kesempatan salah satu FF saya dibukukan dalam 15 Hari Bagian 2 dan The Coffee Shop Chronicles. Alhamdulillah..

Peraturan #15HariNgeBlogFF2 ini sedikit berbeda dengan yang pertama (baca di sini ya). Judul masih ditentukan oleh masmin dan yumin tapi ditambah setting tempat. Wow, saya sempat berpikir bisa ga ya bikin cerita ditentuin kayak gini. Apalagi saya sempat terkena writer's block karena baru saja selesai ujian. Hari pertama, dengan judul Menunggu Lampu Hijau setting di Bukittinggi saya panik. Mau bikin cerita kayak gimana nih. Mau mulai nulis rasanya susaaah banget nemuin kata-kata yang pas saking lamanya ga nulis (liat aja arsip blog saya di bulan April-Mei yang kosong hehe). Saya sampai minta pendapat ke teman-teman saya, "duh kasih ide dong" "ceritanya kayak gimana nih, pengen bikin cerita cinta yang ga biasa", nanya ke teman saya yang orang Padang bahkan sampai broadcast message di grup BBM. Hahaha.. Teman-teman saya pun ngasih idenya aneh-aneh. Akhirnya saya bikin cerita dari salah satu pengalaman pribadi teman saya. Duuh makasih yaa ka MpiNefiSri, dan Tantie yang udah ngasih ide 'gila'nya hahaha *cium*

Setelah ceritanya jadi, pas mau dishare, timbul rasa ga pede. Apalagi pas baca cerita teman-teman yang lain. Waduuh bagus-bagus banget. Malu ih cerita saya kayak gini doang. Untungnya saya punya teman-teman yang saya temukan karena kami sesama pasukan FF. Sampai hari terakhir kami masih saling menyemangati walaupun ada yang masih ngutang FF sampai hari terakhir ini. Hihi.. *peluk untuk @anissarizki @I_am_BOA @T4ntri @AA_Muizz dan @WEIRDilawenny :))

Dari semua kota maupun tempat wisata dalam setting tempat #15HariNgeBlogFF2, tidak semuanya pernah saya kunjungi. Dan di situlah tantangannya. Baru kali ini saya nulis cerita sampai bela-belain googling info tempat tersebut. Tapi dari situ wawasan saya tentang Indonesia jadi bertambah. Indonesia, Island of Paradise. Saya jadi mupeng banget pengen traveling keliling Indonesia. Amin.. Smoga suatu saat nanti kesampaian.

Akhir kata, terima kasih yang tak terhingga untuk masmin @momo_DM dan yumin @WangiMS udah mau bikin event yang sangat bermanfaat sekali untuk penulis moody seperti saya ini hehe. Semoga matanya tetap sehat (kan ngeliatin puluhan tulisan yang masuk setiap harinya tuh) dan jempolnya ga bengkak karena ngeshare link blog kita selama 15 hari ini. Pokoknya kalian admin paling kece deh!! Smoga akan ada #15HariNgeBlogFF3 dan seterusnya yaa.. *btw sayang banget lho #FFHore waktu itu ga diterusin*
Skali lagi, kecup basah penuh cinta untuk dua admin kece :*

PS: Oh iya, #15HariNgeBlogFF2 ini bakalan dibukuin lagi ga kayak #15HariNgeBlogFF1?

Image from here

Tuesday, June 26, 2012

MUNGKIN (TAKKAN) ADA LAGI

Raja Ampat - West Papua

Raungan mesin dari kapal yang baru saja tiba akhirnya berhenti. Kapal pun mulai merapat. Setelah itu suasana kembali tenang dan damai. Hanya terdengar percikan ombak kecil yang mendera sisi kapal lalu melepaskannya, juga sayup-sayup kicauan burung-burung kecil beterbangan dari satu pohon ke pohon lain.

Aku duduk beralaskan pasir putih di tepi pantai ini, memangku notebook-ku. Mataku masih lurus memandangi gundukan pulau karang di hadapanku seolah mengambang di air laut yang berkilauan.

Beberapa turis turun dari kapal tadi, kemudian berjalan melewatiku sambil berbicara dengan bahasa Inggris yang cepat. Sempat kulihat mata takjub mereka melihat pemandangan di hadapan mereka ini. Ya, siapa yang takkan terpesona. Raja Ampat—kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten Sorong, Papua ini memang layak disebut surga dunia. Kepulauan Raja Ampat tak hanya dianggap sebagai taman laut terbesar di Indonesia, namun juga diyakini memiliki kekayaan biota laut terbesar di dunia. Di sinilah rumah bagi 540 jenis karang, 1.511 spesies ikan, serta 700 jenis moluska. Kekayaan biota inilah yang menjadikan Raja Ampat sebagai perpustakaan hidup dari koleksi terumbu karang dan biota laut paling beragam di dunia. Saat menginjakkan kaki di Raja Ampat ini maka kegembiraan sudah dapat dirasakan. Orang yang baru datang seketika akan memuji nama Tuhan-nya karena mata dan hatinya terpikat dengan pemandangan alam yang luar biasa ini. Bila orang tersebut hanya diam terkesima, maka itu adalah bukti bahwa orang itu telah tertawan oleh setitik surga yang jatuh di lautan yang jernih sebening kristal dan ombak lembut menyapu pasirnya yang putih.

Kulihat tak jauh dari tempatku tampak pasangan yang sudah memakai perlengkapan selamnya. Mereka sedang menunggu boat yang akan membawa mereka menuju titik selam dimana kita dapat menikmati pemandangan bawah laut yang begitu indahnya.

Aku tersenyum melihatnya. Aku sudah beberapa hari di sini. Pun aku sudah puas menyelami dasar lautan. Saat ini aku hanya ingin melamun dan memandang keindahan tempatku berada saat ini. 

“Mau sampai kapan kamu seperti itu?”

Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke kanan dan kiriku. Tapi tidak ada seorang pun yang berbicara padaku.

Suara itu…

Tanpa sadar aku memegang dadaku. Ada rasa sakit yang menyesakkan di sana. Dan lagi-lagi air mataku mengalir tanpa bisa kucegah. Padahal selama beberapa hari di sini aku berusaha menahannya.

Aku juga tak mau seperti ini terus!. Kucoba membantah suara itu.

“Hei..”

Kali ini sepasang tangan mengusap sudut mataku. Aku menengadah. Seorang lelaki berkulit coklat tiba-tiba muncul di hadapanku. Air laut masih membasahi tubuh atletis dan ujung-ujung rambutnya. 

Cepat-cepat kutepis tangan itu dan kuhapus sendiri air mataku. Seharusnya ia tak boleh melihatku seperti ini. 

Sekarang ia berjongkok di hadapanku, memandangku sendu. Dipandangi seperti itu air mataku makin deras mengalir. Aku pun terisak-isak menunduk di hadapannya.

"Jadi ini ya alasanmu ga mau ikut aku menyelam.. biar kamu bisa puas menangis dan melamunkan dia di sini." Ia mengambil notebook dari pangkuanku dan meletakkannya di sampingku. Aku diam saja mendengar tuduhannya.

“Lihat aku Rahne..” pintanya lembut.

Aku menggeleng dan menghindari tatapannya. Tetapi sepasang tangannya yang kokoh memegang bahuku.

“Lihat aku plis..”

Ia memegang daguku lalu menciumku lembut. Aku terdiam dalam tangisku. Selesai menciumku ia memandangku dengan tatapan memohon.

“Sekarang ada aku kan, Ne.. Aku suamimu sekarang.. Tolong jangan terus menerus membawa kepingan dirinya..” Naren memelukku erat.

Dalam pelukan Naren aku makin tergugu. Perasaan bersalah makin merasukiku yang tak juga bisa membalas  perasaan orang yang mencintaiku ini.

Maaf, maafkan aku Naren.. Mungkin takkan ada lagi cinta dalam hatiku sepeninggal Wisnu..



Lanjutan dari MEMORI TENTANGMU 

LANGIT PUN TERSENYUM

Wakatobi - Southeast Sulawesi

Air laut yang jernih terlihat beriak-riak kecil tertiup angin. Sementara itu rumput-rumput laut di dalamnya terlihat seolah menari-nari. Hamparan pasir putih dengan deretan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai di tepi pantai. Keindahan itulah yang tersaji di hadapan kami setibanya di Wakatobi ini. 

Aku menarik napas lega sembari meregangkan otot-ototku. Perjalanan 1 jam dari bandara Makassar cukup membuat badanku pegal. Aku tak bisa membayangkan seandainya naik kapal yang katanya memakan waktu kira-kira 10 jam. Bisa rontok badanku sebelum sampai di Wakatobi ini.

“Kita sudah sampai nih?”
Suara lembut di sampingku menyadarkanku. Astaga, hampir saja aku lupa kalau aku ke sini bersama dia. Aku tersenyum lalu menuntunnya mendekat ke bibir pantai.

“Sudah dong.. Kamu bisa tebak ga kita ada dimana?”

Mata Fira, istriku, masih tertutup dengan kain hitam yang kupakaikan sejak di rumah beberapa jam yang lalu. Kubiarkan ia sepanjang jalan mengomel karena penasaran akan dibawa kemana olehku.

“Mmmm…” hidung Fira kembang kempis mencoba mengenali udara di sekelilingnya. Kakinya menjejakkan pasir tempat ia berpijak berkali-kali. Air laut membasahi ujung-ujung jari kakinya.

“Pantai ya.. tapi dimana..” 

Aku terkikik sementara Fira sibuk menerka-nerka.
Kutuntun ia sampai masuk ke permukaan laut. Fira bergidik begitu air laut menyentuh kulitnya.

“Ayo sayang, tenang aja ga bakal tenggelam kok.. Aku pegangin kamu..” kataku.

Kami terus melangkah sampai tinggal kepala kami saja yang muncul di permukaan laut.

“Nyerah aah.. Buka dong kain penutupnya…” Fira merajuk. Ia benar-benar penasaran.

Pelan-pelan aku melepas pegangan tanganku sampai aku yakin Fira benar-benar mengambang. Lalu perlahan kubuka kain yang menutup matanya. Fira langsung terbelalak melihat sekelilingnya.

“Ini… dimana..”

“Wakatobi. Kamu bilang ingin ke sini kan sayang..” 
Aku tersenyum penuh kemenangan. Aku selalu ingat saat masih pacaran dulu Fira sering menyebut Wakatobi sebagai tempat ke sekian yang harus dikunjunginya. Ia memang pecinta alam. Sayangnya aku baru sekarang ini dapat mewujudkan keinginannya.

Fira masih terpukau dengan pemandangan sekitarnya.

“Ini supaya kamu ga sedih lagi sayang.. Kamu harus ikhlasin kepergian bayi kita ya.. Semoga Tuhan akan menggantinya sekembalinya kita dari sini..” Aku mengedipkan mata.

Fira mencubit lenganku. “Makasih ya Mas.. Maaf kemarin-kemarin aku sedih dan merasa bersalah sekali. Tapi sekarang aku mau berusaha ikhlas..”

Mungkin salahku juga karena tidak memperingatkannya agar tidak bekerja terlalu keras, pikirku dalam hati.

“Yuk, sekarang kita berenang kembali ke pantai. Kita sewa perlengkapan selam dulu supaya bisa lihat terumbu karang.”

“Lihat lumba-lumba juga ya Mas..” pinta Fira. Aku mengangguk.

Fira tersenyum bahagia. Aku menatap langit cerah di atas kami. Kulihat langit pun tersenyum seolah ikut merayakan kembalinya senyum istriku tercinta.


Monday, June 25, 2012

AKU TAK MENGERTI

Museum Kota Makassar - Makassar, South Sulawesi

“Selamat Pagi…”

Sapaan riang di pagi hari inilah yang selalu kutunggu-tunggu. Aku sampai rela bangun pagi untuk mempersiapkan diriku agar tampil cantik di depannya. Saat Ia melewatiku kuberikan senyum terbaik dan termanisku padanya.

“Kamu selalu tampak cantik ya..” Ia membalas senyumanku lalu membelai rambutku yang seketika membuat pipiku bersemu merah jambu.

Fardi namanya. Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya di Museum ini. Yang kutahu, Ia menggantikan ayahnya yang sudah tua untuk merawat Museum ini. Di antara yang lainnya, Ia tampak begitu mempesona buatku. Ia sangat rajin dan ulet. Selalu datang paling pagi, tidak pernah mengeluh meski terkadang Ia harus sendirian membersihkan koleksi-koleksi museum yang jumlahnya ratusan ini sendirian saat teman-temannya kumat malasnya.

Aku selalu menemaninya. Ia sering menceritakan apa saja padaku. Tentang keluarganya, cita-citanya, makanan kesukaannya bahkan ia juga sering melontarkan lelucon yang membuatku tak tahan untuk tidak tertawa. Ia sungguh berbeda dengan lelaki-lelaki yang kukenal selama ini. Bersamanya membuatku nyaman dan aku ingin selalu bersamanya.

Aku tak mengerti, apakah ini namanya cinta?.

“Hai..”

Astaga, tanpa sadar ternyata ia yang kupikirkan sedari tadi telah berdiri di hadapanku. Wajahku kembali terasa panas.

“Hari ini aku akan memperkenal seseorang padamu. Aku sering menceritakan tentangmu padanya dan dia ingin sekali bertemu denganmu. Aku harap kamu juga menyukainya ya..” kata Fardi lagi-lagi sembari mengusap lembut rambutku.

Aku hanya memandangnya penuh tanya. Hatiku berdebar penuh rasa penasaran.

Suara bel pintu terdengar. Spontan Fardi langsung menoleh ke arah sumber suara. Saat itu juga raut wajahnya tampak berbeda ketika melihat sosok di ambang pintu tersebut. Wajah yang tak pernah ia perlihatkan padaku sebelumnya. Fardi segera menyongsong kedatangan wanita itu.

Aku mendesah kesal melihatnya. Wanita itu tak sebanding denganku. Jelas aku lebih cantik dan menarik dibandingnya. Dia manis dan sederhana. Rambutnya digelung dengan anak rambut terurai di sisi telinganya. Walaupun begitu Fardi terlihat memperlakukan ia begitu istimewa.

Wanita itu tersenyum saat melihatku.

“Jadi ini ya yang sering kamu ceritakan itu Far?” Ia mendekat untuk melihat sosokku lebih jelas. Wajahnya terlihat sumringah.

“Gimana, kamu terkesan kan? Ini salah satu favoritku. Ia selalu mendengar cerita-ceritaku.” Kata Fardi. Wanita itu mengangguk-angguk.

Ah, dia membanggakanku di depan wanita ini. Tapi itu tetap saja tidak menghilangkan rasa penasaran juga perasaan seperti terbakar dalam hatiku. Apakah aku cemburu?. Lagi-lagi aku tak mengerti perasaanku sendiri.

“Ah, aku lupa mengenalkan kalian..” Fardi merangkul wanita itu dan memandangnya mesra.

“Ini Fira, yang tadi ingin kukenalkan padamu Wilhelmina.. Dua hari lagi kami akan menikah..”

Fira membungkuk hormat padaku. “Senang sekali dapat berkenalan dan bertemu dengan anda Ratu Wilhelmina.. Saya mengagumi sosok Anda sejak mempelajari sejarah.”

Aku menatap Fardi dengan kecewa dan sedih. 
Seandainya saja aku bukan sebuah patung yang dipajang di Museum kota Makassar ini, pasti akulah yang memilikimu..

Patung Ratu Wilhelmina

15HariNgeBlogFF2 day 13, Setting : Museum Kota Makassar 

Info : Patung setengah dada Ratu Wilhelmina adalah salah satu koleksi di Museum kota Makassar
Gambar diambil dari sini

Saturday, June 23, 2012

MEMORI TENTANGMU

Pura Besakih, Bali

“Wisnuuu… tunggu aku dong..”
Terengah-engah gadis kecil itu mengejar teman di depannya yang tertawa-tawa.

“Ayo sini Ne, kejar aku..” ledek anak lelaki yang dipanggil Wisnu itu tanpa berusaha memperlambat langkahnya.

Akhirnya si gadis kecil mempercepat langkah kecilnya menaiki undakan tangga Pura. Karena tergesa-gesa dan tidak memperhatikan langkahnya, ia pun jatuh terpeleset.

“Wisnuuuu…”jeritnya.

Wisnu yang semula meninggalkannya itu terkejut namun ia segera melesat menghampirinya.

“Rahne.. Rahne, kamu ga apa-apa?”

Wisnu membantunya berdiri. Gadis kecil itu meringis kesakitan. Air mata menggenangi pelupuk matanya. Lutut sebelah kanan dan siku kirinya lecet dan berdarah.

“Sakit, Nu…” Rahne terisak.

Wisnu spontan memeluknya. “Maafin aku ya Ne, aku salah.. Maaf ya..”

Rahne mengangguk seraya melepas pelukan Wisnu.

“Yuk, aku gendong kamu sampai ke tempat mama papa kita di atas.”

“Emang kamu kuat gendong aku?”

“Kuat.. Udah deh cepetan naik ke punggung aku, Ne.. Nanti kita ketinggalan doa bersama..”

Rahne tersenyum dan segera naik ke punggung Wisnu.

***

Matahari senja muncul perlahan menghiasi langit Bali. Rahne dan Wisnu duduk berdampingan di salah satu tangga Pura Besakih, yang merupakan Pura terbesar dan pusat pemujaan umat Hindu di Indonesia. Letaknya tak jauh dari tempat tinggal mereka. Masa kecil Rahne dan Wisnu dihabiskan dengan bermain di Pura ini. Beranjak dewasa mereka sering bertemu di Pura dalam upacara adat maupun sekedar untuk menikmati senja seperti saat ini.

Hari ini suasana Pura tidak terlalu ramai oleh wisatawan maupun umat yang berdoa. Lama mereka terhanyut dalam keheningan menatap pemandangan alam yang terbentang di hadapan mereka.

Rahne memandang Wisnu di sampingnya yang masih diam menatap lurus ke depan. Entah apa yang dipikirkannya. Ada perasaan aneh bergemuruh di hati Rahne memandang wajah sahabatnya sedari kecil itu. Bukan semata Wisnu yang dulu, yang selalu menjahilinya dan juga selalu melindunginya. Ah, anak lelaki cepat sekali bertambah dewasa..

“Maafin aku ya Ne, harus ninggalin kamu.”
Akhirnya Wisnu bersuara, namun pandangannya tetap lurus, tidak memandang mata Rahne.

Esok hari Wisnu akan pindah ke Ibukota untuk meneruskan kuliah. Bohong jika Rahne tidak merasa sedih karenanya. Dalam hatinya ia berharap semoga Wisnu pun demikian.

“Gapapa Nu, tapi janji ya kamu akan balik lagi ke Bali..”

Rahne memberanikan diri memegang telapak tangan Wisnu di sampingnya. Lagi-lagi hatinya berdesir. Tanpa ia duga, Wisnu balas menggenggam erat tangannya lalu mengalihkan pandang ke arahnya. Tatapan Wisnu serasa menembus langsung ke jantungnya.

“Empat tahun lagi, kita ketemu lagi di sini Ne.. ”

Mereka sama-sama tersenyum.

“Aaaahh Wisnuu…” Rahne memeluk sahabatnya itu. “Aku yakin kamu pasti kesepian ga ada aku Nu.”

“Kamu kali yang kesepian karena ga ada aku..” balas Wisnu.

Mereka melepaskan pelukannya, lalu tertawa bersama.

Empat tahun lagi, oh Dewata Agung, cepatlah buat waktu segera berlalu.. Jangan buat aku mati dalam rindu yang tiada berujung.. doa Rahne dalam hati.

***

“Aku lagi di kafe Jimbaran, Ne..” jawab Wisnu di seberang telepon. Hingar-bingar musik terdengar dari belakangnya.

“Hah? Kok kamu ga ngajak dan bilang aku sih. Aku udah nungguin kamu daritadi di Pura.”
Rahne mendesah kesalApa-apaan si Wisnu, bukannya dia sendiri yang bilang pagi ini tunggu dia di Pura Besakih.

Setelah empat tahun Wisnu menepati janjinya kembali lagi ke Bali. Namun semalam mereka baru bertemu sebentar karena tentu saja waktu Wisnu dihabiskan untuk temu kangen dengan keluarganya. Rahne amat terkejut melihat perubahan Wisnu. Ia makin bertambah tinggi dan tentu saja bertambah tampan. Debaran aneh dahulu kembali hadir dalam diri Rahne. Apalagi mendengar Wisnu mengatakan bahwa dirinya bertambah cantik. Rahne yakin wajahnya semalam seperti langit senja saat mendengar pujian Wisnu.

“Maaf Ne, ada temanku dari Jakarta yang minta ketemu di sini.. Halo, Ne, kamu masih di sana kan?”

Rahne tersadar dari lamunannya. “Iya iya Wis.. Hmm yaudah terus kapan kita ketemu? Aku kangen kamu tau!”

Astaga Rahne, ga bisa ya kamu berkata lembut sedikit.. Rahne menepuk-nepuk bibirnya.

Terdengar tawa khas Wisnu di seberang. “Aku juga kangen kamu, Rahne..” suara Wisnu lalu melembut dan terasa menggema di telinga Rahne. Rahne merasakan wajahnya kembali panas.

“Tunggu aku di Pura nanti sore ya.. Kita lihat sunset sama-sama, kayak dulu..” kata Wisnu.

“Banyak yang mau aku omongin ke kamu, Nu..” kata Rahne lirih.

“Aku juga, Ne.. makanya tunggu aku ya. Sebentar lagi aku balik kok..”

“Oke..”

“Ne..”
Terdengar jeda nafas Wisnu di seberang.

“Ya, Nu?” Rahne menunggu dengan cemas.

“Ga jadi, Ne.. Nanti aja.. Udah ya, tunggu aku pokoknya.”

***

Rahne duduk di salah satu tangga Pura Besakih sambil menatap pemandangan senja di hadapannya. Memori tentang Wisnu dan dirinya sedari tadi silih berganti hadir dalam pikirannya.

“Wisnu..” panggil Rahne dalam lirihnya.

Hening, hanya ada suara angin menyentuh dedaunan.

Rahne terisak perlahan masih menyebut-nyebut nama Wisnu.

Tetapi Wisnu yang dipanggilnya tidak ada lagi di sampingnya. Wisnu yang ia tunggu tak akan pernah datang lagi. Air mata Rahne menetes satu-satu, membasahi lembaran surat kabar yang dibawanya. Salah satu headline beritanya adalah daftar nama korban bom Bali.

“Aku belum bilang kalau aku sayang kamu, Wisnu..”


Friday, June 22, 2012

SASIRANGAN

Pasar Terapung - Banjarmasin, South Kalimantan

Hari ini adalah hari yang penting karenanya aku sibuk sekali mempersiapkan segala sesuatunya. Tanpa membuang waktu usai shalat shubuh aku bergegas menuju pasar yang letaknya tak jauh dari rumahku.

Pasar di daerahku ini unik, tidak seperti di daerah-daerah lain. Pasar tradisional ini dinamakan pasar terapung. Sesuai dengan namanya, tentu saja semua kegiatan jual beli dilakukan di atas jukung atau klotok yang terapung di sepanjang sungai Barito, di muara sungai Kuin. Banyak pedagang yang menjajakan barang dagangannya antara lain buah-buahan, sayuran, makanan ringan, bahkan ada juga warung terapung. Pasar ini memulai aktivitasnya dari pukul 3.30 WITA sampai sekitar pukul 6.30 WITA. Karena itu kita tidak boleh kesiangan datang ke pasar agar tidak kehabisan.

Thursday, June 21, 2012

AKU KEMBALI

Surabaya old town area

Aku kembali!!

Hampir saja aku melonjak kegirangan. Betapa aku tak pernah bermimpi dapat menginjakkan kaki lagi di sini. Sengaja aku turun dari taksi yang membawaku dari Terminal Purabaya untuk berjalan-jalan di kawasan kota tua Surabaya ini. Kukenakan kacamata hitam dan topiku untuk menghindari sengatan matahari siang yang terik. Kusiapkan Canon-ku, aku ingin kepulanganku kembali ke kota kelahiranku ini dapat diabadikan dalam jepretan amatirku. Lalu dimulailah tur kecil-kecilanku.

Kulihat sebuah trem merah melintas di depanku. Kubertanya pada salah seorang di dekatku ternyata trem itu dapat membawa kita keliling kawasan kota tua ini tanpa dipungut biaya. Namun tentu saja kita harus memesan dulu jauh-jauh hari. Aku sedikit kecewa karena aku belum pernah mencoba naik trem itu. Tetapi tak apa, jalan kaki mengelilingi kawasan ini juga bukan ide yang buruk.

Wednesday, June 20, 2012

GENGGAMAN TANGAN

Tawangmangu waterfall - Karanganyar, Central Java

Udara sejuk dan dingin khas pegunungan menyapa begitu kami tiba di Tawangmangu, suatu daerah yang terletak di lereng gunung Lawu—sekitar 37 kilometer sebelah timur kota Solo. Perjalanan melelahkan selama 1,5 jam dari Solo terlupakan begitu saja setelah melihat pemandangan indah yang terbentang di hadapan kami. Satu per satu kami turun dari bis pariwisata yang membawa kami sejak dari Ibukota, mengikuti instruksi dari Pak Sugeng, wali kelas kami.

“Awas hati-hati Nak turunnya.. Pelan-pelan.. Bobi, ga pake loncat-loncat turunnya!” suara tegasnya memperingatkan anak muridnya yang mencoba bergaya seperti Superman saat turun dari bis.

“Harusnya ada tangga kecil ya Pak, jadi anak-anak gampang turunnya.” terdengar suara Ibu Marni, wali kelas lain pada Pak Sugeng.

“Pegang tangan aku, Rat..” Adri mengulurkan tangannya padaku saat ia sampai di bawah. Cepat kupegang tangannya erat-erat dan meloncat turun dari bis.

“Tas kamu berat ga? Biar aku yang bawa. Nanti pegangan aku terus ya, jalan ke bawah itu licin katanya.” kata Adri. 

Aku menggeleng, sambil memanggul sendiri ranselku.

Tuesday, June 19, 2012

RAMAI

Malioboro street - Yogyakarta


Jogja-ku, aku kembali..

Aku melangkah riang menyusuri setiap petak jalan Malioboro ini. Sesekali mengusap peluhku karena matahari siang yang begitu terik ditambah aku harus berdesakan dengan puluhan orang yang memadati jalan ini. Suasana begitu gaduh dan riuh. Jerit klakson mobil, ringkikan kuda penarik delman, alunan gamelan dari kaset yang diputar di salah satu toko, hingga teriakan pedagang yang menjajakan mulai dari batik, kaos oblong, kerajinan tangan manik-manik, tato permanen dan temporer, sampai gudeg berbaur menjadi satu. Tak ada yang berubah sejak terakhir aku berada di sini. Sesekali kusapa beberapa pedagang yang kukenal. Malioboro memang selalu ramai, tidak pernah sepi, sudut kota yang tidak pernah tidur—seperti jalan Braga di Bandung*).

Monday, June 18, 2012

BIRU, JATUH HATI

Pangandaran beach - West Java

Aku pasti bermimpi..

Kembali kucubit-cubit lenganku berharap rasa sakitnya cepat mengembalikanku pada kenyataan. Tapi ternyata aku mengaduh kesakitan karena cubitanku sendiri. Lekas kutambatkan perahuku lalu kurapikan jaringku di dalamnya. Aku tidak ingin melewatkan pemandangan indah ini.

Wanita-wanita cantik yang tak kutahu entah darimana datangnya itu sedang bermain-main di pinggir pantai. Aku melirik ke sana-sini berharap bukan hanya aku saja yang berniat untuk memperhatikan mereka diam-diam. Namun suasana menjelang senja di pantai Pangandaran ini mendadak jadi sepi sekali. Padahal biasanya banyak pengunjung yang menunggu sunset di pantai ini. Salah satu keistimewaan dari pantai Pangandaran ini adalah kita dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama.

Sunday, June 17, 2012

SEHANGAT SERABI SOLO

Pasar Klewer - Solo, Central Java
Selalu ada perasaan lain jika berada di kota kelahiranku ini. Solo, the spirit of Java—begitu slogan pariwisatanya—dan memang begitulah yang kurasakan. Aku sangat bersemangat setibanya di sini. Rasa lelah berjam-jam duduk di kereta terbayar sudah saat menginjakkan kaki di lantai stasiun Solo Balapan ini.

Suasana stasiun ramai sekali. Tidak heran karena sudah memasuki libur anak-anak sekolah. Aku terdesak di antara orang-orang yang lalu lalang dengan membawa koper-koper besar dan bawaan lainnya. Hampir saja aku terpisah dengan keluargaku. Akhirnya kami berhasil menembus kerumunan orang dan sampai di pintu keluar. Ayah segera mencarter taksi untuk mengantar kami sampai ke rumah mbahkung di daerah Solo Baru.

SEPANJANG JALAN BRAGA


Braga street - Bandung, west Java

“Apa lihat-lihat?”

Aku merengut manja pada lelaki di sampingku yang sedari tadi melirikku dengan tatapan menggoda. Ia tergelak.

“Masa ga boleh sih ngeliatin pacar sendiri..”

Aku mendelik. Ia mempererat genggaman tangannya.

“Aku cuma mastiin, ini beneran kamu bukan sih yang ada di sampingku sekarang.. Semoga aja ini bukan mimpi..” lanjutnya.

Friday, June 15, 2012

KERUDUNG MERAH

Toba Lake - North Sumatera

Angin malam yang dingin berhembus kencang begitu kubuka pintu depan rumahku. Lalu kututup kembali tanpa suara. Aku tak ingin membangunkan Ibu yang baru saja terlelap. Dengan mengendap-endap aku berjalan cepat menuruni jalan kecil menuju danau yang letaknya hanya beberapa meter dari rumahku. Danau Toba. Ya, rumahku terletak di perbukitan di sepanjang danau itu.

Suasana sepi karena sudah larut malam. Sepanjang aku berjalan yang terdengar hanya langkah kakiku sendiri dan gemerisik daun-daun di pohon yang tertiup angin. Aku hanya berharap tidak bertemu orang-orang karena aku malas sekali menjelaskan jika mereka bertanya mengapa selarut ini aku masih berada di luar.

Thursday, June 14, 2012

JINGGA DI UJUNG SENJA

Musi river, Ampera bridge - southern Sumatra
Sungai Musi. Jembatan Ampera.

Setelah beberapa tahun aku tidak datang ke kota ini, ternyata begitu banyak perubahan yang terjadi. Ada pemandangan baru di tepian Sungai Musi ini. Ada puluhan orang yang terlihat duduk santai di dermaga beton. Ada yang sekedar me­nik­mati indahnya sungai, berpacaran bahkan ada juga yang memegang tangkai pancing, yang kailnya berkali-kali terombang-ambing gelombang setiap ada getek melintas. Selain itu tampak anak-anak kecil bermain air dengan riang di undak-undakan yang ada di bawah dermaga. Meskipun air sungai itu tak lagi jernih warnanya dengan beberapa tumpukan enceng gondok, tetapi anak-anak itu tampak sangat menikmatinya.

Tuesday, June 12, 2012

PAGI KUNING KEEMASAN

Lengkuas Island - Belitong

Hari sudah pagi namun matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Angin laut berhembus perlahan membelai kulitku. Tubuhku menggigil. Salahku sudah berada di tepi pantai pagi-pagi buta begini tanpa terlebih dulu mengganti pakaian tidurku yang tipis. Kuhempaskan tubuhku di hamparan pasir putih ini. Kupeluk lututku erat untuk membuat tubuhku sedikit hangat, namun sepertinya sia-sia. Dinginnya udara subuh sudah merasuk sampai ke tulangku.

Di hadapanku terbentang lautan biru sejauh mata memandang. Warnanya masih biru gelap karena belum terbias sinar mentari. Sahutan burung layang-layang sayup-sayup terdengar. Sungguh damai sekali rasanya.

Kubaringkan tubuhku di hamparan pasir putih. Kutatap langit yang masih bertabur sedikit bintang. Ah, bintang. Aku tersenyum sambil memejamkan mataku.

“Buatku kamu itu seperti bintang.” katamu.

Aku tergelak. “Namaku kan memang bintang.”

Nah, berarti perumpamaanku benar dong. Buatku kamu itu bintang. Karena telah memberi setitik cahaya dalam gelapnya malamku.”

“Gombal.” Kucubit pelan lenganmu.

Kamu menarikku dan menyandarkan kepalaku di bahumu. 

Ga gombal kok. Memang begitu adanya. Ga percaya ya?”

Pertanyaan skeptis. Kamu pasti sudah tahu jawabanku.

Percaya..”

Kucium kilat ujung bibirmu, lalu segera bangkit dari dudukku. Wajahmu merona sesaat lalu kamu menahan tanganku.

“Mau kemana sih sayang?" kamu menciumi jemariku.

“Ke mercusuar di sana yuk.. Kita kan belum jalan-jalan mengelilingi pulau ini.”

Aku pun berlari kecil menjauhimu. Melemparkan butiran-butiran pasir ke arahmu sambil tertawa-tawa. Kamu mengejarku, menangkapku, lalu menceburkanku ke laut. Aku pun menarikmu agar ikut menyeburkan diri bersamaku. Kami menyatu dalam birunya lautan, bergelung dengan riak-riak ombak kecil yang akhirnya menghempaskan kami kembali ke pantai. 

Dengan tubuh basah kuyup kami berkejaran sampai ke mercusuar di ujung pulau. Seharian itu kami habiskan dengan mengitari pulau yang menjadi salah satu objek wisata terkenal di kabupaten Belitung ini. Pulau kecil yang indah laksana surga. Surga kecil untuk cinta kami.

Aku tersentak saat air laut yang dingin mengenai ujung kakiku. Menyadarkanku dari lamunan indahku. Kubuka mataku perlahan. Ufuk di langit timur mulai tampak. Cahaya pagi berwarna kuning keemasan. Cahayanya menyilaukan. Aku menyipitkan mata.

Pagi yang sama seperti waktu itu. Hanya saja saat itu masih ada kamu di sisiku.

Tiba-tiba wajahku terasa panas. Kuusap sudut mataku yang mengembunkan air mata. Dadaku sesak. Masih ada rasa sakit tertahan di situ. Rasa sakit menahan rindu sepeninggalmu.

Kecelakaan menimpa kapal yang membawa kami dari pulau ini untuk kembali ke ibukota. Aku berhasil selamat namun tubuhmu hanyut bersama ombak dan tak ditemukan. Aku hampir saja gila karena tak siap menerima kepergianmu yang begitu cepat.

Hari ini, setahun setelah kepergianmu. Aku kembali ke sini—ke surga kecil kita dahulu. Mengenang saat-saat indah waktu itu.

Aku bangkit berdiri. Membersihkan diriku dari butiran pasir yang menempel di kulitku. Kugenggam sebagian, meremasnya, lalu meniupnya. Debu-debu pasir itu beterbangan. 

Seperti hatiku yang hancur karena kehilanganmu.

Aku tanpamu, butiran debu..*)


*)penggalan lirik dari lagu Butiran Debu - Rumor

MENUNGGU LAMPU HIJAU


Jam Gadang - Bukittingi, west Sumatra

“Aku tunggu di sini ya..”

Aku melambai pada mereka—dua orang perempuan dengan dua anak kecil yang tanpa mempedulikanku langsung berlarian ke sana kemari setibanya kami di pelataran jam gadang ini. Dua wanita itu hanya mengangguk padaku lalu mereka segera menyusul kedua bocah itu, yang sekarang ikut bergabung dengan sekelompok anak seusia mereka yang sedang menyalami badut boneka Tiger—sahabat Winnie the Pooh yang ada di situ.

Aku terduduk lelah di tangga paling bawah menara jam gadang. Cuaca Bukittinggi hari ini cerah namun tidak terlalu terik. Sepertinya ideku membawa mereka mengunjungi jam Gadang ini tidak terlalu buruk. Walaupun di sini hampir tidak ada apa-apa—hanya sebuah jam besar di tengah kota, tetapi di depan sana ada pasar. Mungkin nanti dua perempuan itu akan memintanya membawa mereka ke sana. Perempuan sebagaimana kodratnya pasti suka belanja.