Tuesday, March 31, 2015

Bye Bye and Thanks for everything, Pangkalpinang-Bangka!

Assalamualaikum..

Ga terasa sekarang udah di penghujung bulan Maret 2015. Dari awal tahun baru kemarin banyak yang terjadi dalam hidup saya. Salah satunya adalah saya memutuskan resign dari pekerjaan saya di Kota Pangkalpinang, Bangka.

Lega?
Banget.

Sedih?
Pastinya.

Sebenarnya saya memang sudah merencanakan untuk resign sejak akhir Desember kemarin. Alasannya sudah pasti karena saya udah ga sanggup untuk LDM-an dengan suami. Sebenarnya kontrak pekerjaan saya seharusnya berakhir pada akhir Desember kemarin tetapi diperpanjang sampai akhir Juni 2015 namun kontrak yang kedua ini sifatnya tidak mengikat. Karena itu saya memikirkan untuk resign pada akhir Februari 2015. Suami sih tidak melarang hanya pesannya jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Dia tahu saya sudah sangat suntuk dengan kehidupan saya di Bangka, tetapi di sisi lain saya berat berpisah dengan teman-teman sejawat saya selama ini dan hidup kami di Solo juga belum mapan. Kami belum punya tempat tinggal sendiri, selama ini kalau saya bolak balik Pangkalpinang - Solo itu saya menginap di kostan suami. Pun saya juga harus mencari pekerjaan lain di Solo. Ya, saya harus bekerja karena selama suami saya menempuh pendidikan Spesialis ini dia tidak mendapat gaji dari perusahaan selain itu saya juga ga betah jika hanya mengurus rumah tangga saja hehe. 

Desember kemarin sebenarnya saya mendapat panggilan interview dari sebuah RS swasta di Solo tapi karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya di Bangka jadi tawaran itu tidak saya ambil. Ada rasa sesal sebenarnya tapi kemudian saya berpikir mungkin belum rezeki saya. Akhir Januari saya membulatkan tekad untuk resign pada tanggal 28 Februari 2015. Surat resign sudah dibuat tinggal minta tandatangan persetujuan dari dokter penanggungjawab. Suami sudah setuju, dia bilang rumah untuk tempat tinggal kami nantinya juga sudah ada dan tinggal direnovasi. Jadi sekarang tinggal mencari pekerjaan untuk saya. Sebenarnya saya bisa saja memasukkan lamaran di sejumlah RS di Solo, tapi saya ingin mencari pekerjaan yang jam kerjanya office hour, tidak ada shift malamnya. Pertimbangan saya, suami saya sudah sibuk di RS masa' saya juga sibuk nanti kami sama-sama cape padahal kami juga merencanakan untuk program punya anak. Yaa memang itu rezeki dari Allah swt sih.. Tapi kan manusia juga wajib berikhtiar. Selain itu kalau saya sibuk, sama saja suami dan rumah tangga juga ga terurus.

Suatu malam di awal Februari, saya sedang iseng buka twitter loker di kota Solo. Entah mungkin sebuah rezeki dan petunjuk dari Allah swt ada loker dokter umum di sebuah perusahaan di Solo. Langsung saya buka link-nya dan mencermati persyaratannya. Ternyata alamatnya tidak jauh dari kampung halaman saya, tempat tinggal almarhum eyang kung. Saya ceritakan kepada Tante saya dan katanya itu tempat kerja suaminya. Alhamdulillah langsung saya mempersiapkan pesyaratannya. Esoknya baru saya kirim lamaran via email. Selang dua hari kemudian saya mendapat telepon dari HRD perusahaan tersebut. Ternyata poliklinik perusahaan tersebut memang sedang membutuhkan dokter karena dokter sebelumnya diterima PNS. HRD tersebut minta saya untuk cepat bekerja di sana saat itu juga. Saya bersyukur tetapi juga galau. Karena pagi harinya saya baru saja mendapat tandatangan persetujuan untuk resign pada akhir Maret 2015. Ya, saya mengubah keputusan saya karena saya berpikir pekerjaan saya belum dapat juga rumah masih direnovasi, jadi nanti sajalah resignnya. Eh ternyata saya mendapat pekerjaan lebih cepat dari dugaan saya. Saya katakan kepada HRD tersebut kalau saya baru bisa mulai bekerja pada awal April karena saya baru resign akhir Maret. Namun HRD tersebut memaksa saya untuk resign lebih cepat.

Akhirnya esoknya saya menghadap lagi ke dokter penanggungjawab. Seperti dugaan saya, saya dibilang plin plan. Tetapi beliau senang juga karena saya sudah mendapat pekerjaan. 

Setelah itu saya mulai mempersiapkan kepindahan saya. Rencana saya, saya mau pulang ke rumah orang tua dulu baru pindah ke Solo. Hari-hari menjelang resign tersebut saya lalui dengan kegalauan. Ya galau lah karena saya harus move on dari zona nyaman saya selama dua tahun lebih ini. Ternyata sedih juga bakalan berpisah dengan teman-teman juga pasien-pasien saya selama ini. Saya orangnya cengeng dan melankolis. Hari-hari terakhir saya bekerja saya banyak melamun tapi saya berusaha untuk tidak menangis. Sampai suatu hari teman-teman memberi saya kejutan yang berhasil membuat saya menangis sejadi-jadinya. Mereka memberikan saya kenang-kenangan sebuah jam tangan dan mukena. Mereka berdoa bersama untuk kesuksesan dan kebahagiaan saya di tempat yang baru. Mereka bergantian menyalami dan memeluk saya. Saya benar-benar tak dapat menahan air mata. Sediiihh sekali saat itu. Alhamdulillah terima kasih ya Allah Engkau telah menjadikan kami saling mengenal dan menjadi saudara. Semoga tali silaturahmi ini abadi selamanya. Aamiin. 

Setelah itu hari-hari terakhir saya bekerja diisi dengan banyak foto-foto. Ada salah seorang pasien yang memberikan saya foto kenang-kenangan, saya membalasnya dengan foto bersama beliau dan memberikan padanya. Ah, semoga ibu itu sehat selalu.



DK Pangkalpinang full team dengan seragam batik pose di depan klinik

farewell dengan dr. Yulitha & Destin dari DK Sungailiat, ditraktir di RM Ayam Judes

Chibi moment :D

Hari Sabtu tanggal 28 Februari 2015 adalah hari terakhir saya bekerja sebagai Dokter Keluarga PT Timah (Persero) Tbk. Kami berfoto-foto sampai puas. Kebetulan keluarga saya datang untuk menjemput saya sekalian liburan. Jadi adik saya yang menjadi fotografer saya dan teman-teman berfoto di RS.

minus dr. Intan


foto bersama dr. H. A. Sofyan Lubis, Sp.OG

foto bersama dr. H. A. Sofyan Lubis, Sp.OG & dr. H. R. Soeyapto, Sp.OG

Setelah itu saya dan keluarga lanjut untuk berwisata ke pantai Parai dan vihara Puri Tri Agung Bangka diantar oleh Andi (salah satu perawat saya di klinik) sekeluarga. Pantai Parai ini adalah pantai paling bagus di pulau Bangka. Bener-bener Paradise!!. Vihara Puri Tri Agung Bangka ini adalah vihara dengan view lautan. Indah sekali. Esoknya sebelum pulang kami mengunjungi pantai Pasir Padi. Sebenarnya pantai ini biasa saja. Kalah jauh dengan Pantai Parai.
 

Pantai Parai, Sungailiat - Bangka


wefie

tongsis moment :D
di depan patung yang saya lupa apa namanya hehe

Pemandangan Vihara yang dikelilingi laut

di Vihara Puri Tri Agung Bangka

Bersama adek-adek di Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang - Bangka
Bersama keluarga di depan Hotel & Resto Puri 56, tempat kami menginap



Menjelang kepulangan kembali ke Jakarta cuaca di Bangka mendung dan kemudian hujan deras. Ah, cuacanya sesuai sekali dengan suasana hati saya saat itu. Akhirnya sekitar pukul lima sore kami take off ke Jakarta.

Bandar Udara Depati Amir, Pangkalpinang - Bangka


Bye bye and Thanks for everything, Pangkalpinang-Bangka!
Terima kasih untuk dua tahun yang menakjubkan, PT. Timah (Persero) Tbk. Karena Timah saya dipertemukan dengan suami tercinta, karena Timah juga saya mempunyai keluarga yang hebat di Bangka.
Terima kasih sejawat di Dokter Keluarga (DK), especially DK Pangkalpinang.. dr. Intan, dr. Tiwi, Andi, Isti, Ani, Siti, mba Yuli, Bang Yanto, Pak Wisman.. dr. Yulitha, dr. Yenni, Destin Hesty dari DK Sungailiat.. dan teman-teman lain yang tak bisa saya tuliskan satu persatu di sini. I'll be missing you guys :'(
 
Semoga akan ada kesempatan lagi untuk ke Bangka lagi tapi untuk liburan lho yaa hehe ;p


dan sekarang tak terasa udah genap 1 bulan saya meninggalkan Bangka. Bagaimana kehidupan saya selanjutnya di Solo? nantikan di postingan selanjutnya yaa
;)