Monday, June 18, 2012

BIRU, JATUH HATI

Pangandaran beach - West Java

Aku pasti bermimpi..

Kembali kucubit-cubit lenganku berharap rasa sakitnya cepat mengembalikanku pada kenyataan. Tapi ternyata aku mengaduh kesakitan karena cubitanku sendiri. Lekas kutambatkan perahuku lalu kurapikan jaringku di dalamnya. Aku tidak ingin melewatkan pemandangan indah ini.

Wanita-wanita cantik yang tak kutahu entah darimana datangnya itu sedang bermain-main di pinggir pantai. Aku melirik ke sana-sini berharap bukan hanya aku saja yang berniat untuk memperhatikan mereka diam-diam. Namun suasana menjelang senja di pantai Pangandaran ini mendadak jadi sepi sekali. Padahal biasanya banyak pengunjung yang menunggu sunset di pantai ini. Salah satu keistimewaan dari pantai Pangandaran ini adalah kita dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama.


Aku mengendap-endap di belakang pohon kelapa besar di belakang wanita-wanita cantik itu berada. Kuhitung jumlahnya ternyata ada sembilan orang. Di antara mereka ada yang duduk-duduk dan berbaring di hamparan pasir putih, ada juga yang asik bermain air. Aku memandang mereka tak berkedip sambil bertanya-tanya. Siapa mereka dan darimana asalnya. Seingatku di kampung ini tidak ada wanita secantik mereka.

“Kang..”

Aku terlonjak kaget begitu ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh. Kulihat seorang wanita yang jauh lebih cantik dari wanita-wanita yang kulihat tadi. Ia memakai serba biru seperti warna air laut dari ujung kepala sampai kakinya. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Mengintip kami ya? Dasar keturunan Jaka Tarub..” kata wanita itu. Wajah cantiknya menunjukkan raut tak suka padaku.

“Apa?” tanyaku tak mengerti.

“Iya, kamu pasti keturunan Jaka Tarub yang senang mengintip kami, bidadari-bidadari yang turun ke bumi untuk bermain-main.”

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Namaku memang Jaka, tapi bukan Jaka Tarub. Seingatku dalam silsilah keluargaku juga tak ada yang bernama Jaka Tarub. Hei, apa katanya tadi.. Bidadari?

“Kalian.. bidadari?” Mataku mengerjap tak percaya.

Wanita di hadapanku mengangguk angkuh sambil memainkan selendang birunya.

“Untung hanya aku saja yang memergokimu. Kalau kakak-kakakku tahu, kamu pasti sudah disiksa mereka.” ketusnya.

Aku bergidik ngeri. Tak kubayangkan bagaimana bidadari-bidadari itu jika menyiksa seorang manusia. Ternyata bidadari bisa kejam juga.

“Maafkan aku.. “

“Biru, namaku Biru..” Bidadari di depanku ini seolah dapat membaca pikiranku.

“Maafkan aku Biru. Aku baru saja pulang melaut hari ini dan kulihat ada sekelompok wanita cantik yang tak kutahu darimana asalnya. Aku penasaran dengan kalian tapi sungguh aku tidak ada maksud jahat kok. Kumohon jangan hukum aku..”

“Sstt.. jangan keras-keras.. nanti kakak-kakakku dengar. Ayo sini, kita bicara di sana saja.”

Biru menarikku setengah berlari menjauhi pinggir pantai tempat kakak-kakaknya berada. Tangannya yang lembut menggenggamku membuat debaran aneh di dadaku. Aku sungguh terpesona dibuatnya.

“Nah kita aman di sini..”

Kami sudah berada jauh dari tempat kakak-kakak Biru berada. Biru menjatuhkan dirinya di pasir putih. Ia duduk dengan anggunnya menatap laut yang terhampar di depan kami. Aku memberanikan diri duduk di sampingnya. Tak lama kami pun telah terlibat dalam percakapan yang menyenangkan. Biru menceritakan kisahnya padaku, aku pun menceritakan kehidupanku di sini padanya. Tanpa terasa semburat jingga mulai tampak di sana. Matahari hampir terbenam.

“Ah, sebentar lagi waktunya aku pulang. Aku harus kembali ke tempat kakak-kakakku Jaka..” kata Biru seraya berdiri membersihkan dirinya dari pasir.

Hatiku sedih, tak rela rasanya saat-saat indah ini cepat berlalu.

“Biru, bolehkah aku mengajukan permohonan?” tanyaku.

“Apa itu? Bukan untuk memintaku menjadi istrimu dan tinggal di bumi seperti Jaka Tarub kan?”

Aku menggeleng. “Tidak Biru, kembalilah ke tempat asalmu.. Aku hanya ingin mengatakan.. Biru, aku jatuh hati padamu. Sungguh beruntung aku dapat bertemu dan mengenal bidadari sepertimu.”

Biru mengangguk berterima kasih sambil tersenyum. Tiba-tiba ia mengalungkan selendang birunya di bahuku.
“Untukmu, sebagai kenang-kenangan dariku.”

“Tapi nanti kamu jadi tidak bisa terbang ke langit.” Menurut bayanganku, bidadari-bidadari itu akan menggunakan selendangnya untuk terbang ke langit.

Biru tertawa kecil. “Aku masih punya banyak selendang seperti itu, dan kamu tenang saja. Kami akan naik dari pelangi itu.” Biru menunjuk ke tempat kakak-kakaknya di ujung sana. Entah darimana di sana telah ada ujung kaki pelangi yang mengarah ke langit.

“Selamat tinggal Jaka..” Biru mengecup pipiku lalu berlari cepat menyusul ke tempat kakak-kakaknya.

***

“Kang.. Kang Jaka bangun..”

Seseorang menepuk-nepuk pipiku lembut. Aku membuka mata terkejut. Istriku, Biru, tiba-tiba ada di hadapanku memandangku heran.

“Kan udah Biru bilang Kang, kalau ngantuk ga usah ke laut dulu. Tidur aja di rumah. Nanti kalau Akang sakit teh gimana.” kata Biru dengan logat sundanya yang kental.

Aku menatap sekelilingku. Astaga, jadi aku tertidur di perahuku yang tertambat di tepi pantai.

“Itu teh selendang siapa Kang?” tanya Biru. 

Aku memperhatikan diriku. Sehelai selendang biru tersampir di bahuku. Aku tersenyum. Kukalungkan selendang biru itu pada istriku.

“Ini kan selendang kamu, istriku, bidadari Biru..” 

Aku mencium pipinya dengan sayang. Ia tersenyum lalu balas mencium pipiku. Rasanya masih sama seperti pertama kali ia mengecupku dulu.

Ternyata tadi aku bermimpi saat pertama kali bertemu dengan istriku, Biru. Hanya saja istriku ini adalah bidadari yang tersesat di bumi dan lupa siapa dirinya sebenarnya.

4 comments:

  1. hahaha, kenyataan yang terbawa mimpi :)

    ReplyDelete
  2. Sudah kuduga ceritanya.. tapi kalau dia bermimpi, benar2 tdk kuduga. :)))

    ReplyDelete
  3. buwahahaha.. mesem" sendiri bacanya.. keren! ;D

    ReplyDelete
  4. Keren, Ayu. Suka deh. Aku pikir hanya bermimpi, tetapi jadi kenyataan juga.

    ReplyDelete

Leave your comment please.. thank you ;)