Thursday, June 14, 2012

JINGGA DI UJUNG SENJA

Musi river, Ampera bridge - southern Sumatra
Sungai Musi. Jembatan Ampera.

Setelah beberapa tahun aku tidak datang ke kota ini, ternyata begitu banyak perubahan yang terjadi. Ada pemandangan baru di tepian Sungai Musi ini. Ada puluhan orang yang terlihat duduk santai di dermaga beton. Ada yang sekedar me­nik­mati indahnya sungai, berpacaran bahkan ada juga yang memegang tangkai pancing, yang kailnya berkali-kali terombang-ambing gelombang setiap ada getek melintas. Selain itu tampak anak-anak kecil bermain air dengan riang di undak-undakan yang ada di bawah dermaga. Meskipun air sungai itu tak lagi jernih warnanya dengan beberapa tumpukan enceng gondok, tetapi anak-anak itu tampak sangat menikmatinya.

Segera kuparkir mobil rental yang kusewa begitu tiba di kota Palembang ini. Aku melirik jam tanganku lalu memandang langit. Syukurlah langit masih terang meski telah menjelang petang. Karena jika sudah gelap aku tidak bisa mengerjakan tugasku. Lekas kuambil tas yang berisi perlengkapanku dari dalam mobil dan menuju dermaga.

Syukurlah meski ramai, kutemukan juga tempat yang cukup nyaman untukku bersandar dan menikmati pemandangan di sekitar sungai ini. Kukeluarkan buku sketsa dan pensil dari tasku. Jika saja tidak ada tugas dari atasan di kantorku untuk menggambar pemandangan di sungai Musi ini mungkin aku tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di kota kelahiranku ini.

Aku memandang pemukiman penduduk yang ada di seberang tempatku berada saat ini. Masa kecil kuhabiskan di sana. Rumah keluargaku terletak di antara rumah-rumah kecil di pinggiran sungai Musi ini. Jika angin sedang kencang, aku dan teman-teman akan bermain layang-layang. Jika sudah bosan kami akan memancing, bermain air, atau menikmati pemandangan senja dari tepian sungai.

Senja..

Tiba-tiba aku teringat Jingga.

Ah, kugelengkan kepalaku dan berusaha melupakan. Lebih baik aku segera menggambar, karena semburat oranye mulai tampak di ufuk barat. Kugoreskan coretan-coretan kasar di buku sketsaku. Dalam waktu singkat jembatan Ampera yang berdiri kokoh di atas aliran sungai Musi serta pemandangan  di sekitarnya telah berpindah ke bukuku. Aku tersenyum puas. Tinggal mengambil beberapa gambar dari kamera SLR-ku maka selesailah tugasku.

Tanpa sadar tiba-tiba mataku menangkap sosok wanita di seberang sana. Seorang gadis desa berpenampilan sederhana. Rambutnya digelung ke atas dengan menyisakan anak-anak rambut yang dibiarkan terurai bebas. Sehelai selendang jingga menutupi rambut dan wajahnya sebagian. Bahkan dari jarakku ini aku dapat menilai wanita itu … cantik.

Segera kupindahkan sosok wanita itu dalam gambar yang baru saja kuselesaikan. Tak puas, kuberalih ke kertas lain. Kugambar sosok wanita itu lagi namun kini dalam berbagai pose. Memang yang paling menyenangkan itu adalah menggambar wanita cantik.

Kualihkan kembali pandanganku ke seberang. Wanita itu sudah tidak ada. Cepat sekali ia menghilang, gumanku kecewa. Kupandangi lagi sketsa wanita itu. Sepertinya aku sangat familiar dengan sosoknya. Kepalaku tiba-tiba sakit saat mencoba mengingatnya. Oh Tuhan, jangan lagi..  Aku tersadar, sosok itu mirip Jingga. Gadis teman masa kecilku, juga seseorang yang pernah kucintai.

“Kamu udah yakin mau ikut pindah ke Jakarta? Ga mau tinggal di sini aja?” tanya Jingga waktu itu.

Ia mengantarku sampai ke dermaga. Aku menggangguk ragu. Pekerjaan Ayah yang membuat kami sekeluarga harus meninggalkan kota ini.

“Mau gimana lagi. Eh, kamu ga mau ikut aku? Kita bisa tetap sama-sama di sana.”

Jingga menggeleng. “Aku tunggu kamu di sini aja.”

“Baiklah. Aku pasti kembali kok.” Kataku berjanji seraya mencium keningnya.

Nyatanya, aku tak pernah kembali.

Malahan Jingga yang menyusulku ke Ibukota. Itupun bukan atas keinginannya. Jingga datang bersama keluarganya untuk memenuhi undangan pernikahanku. Kulihat kekecewaan terlihat jelas di mata indahnya. Bodohnya aku juga tak berani menatap matanya saat bersalaman dengannya.

Itulah terakhir kalinya aku bertemu dengannya.

Kini, takdir pun membawaku kembali pulang dan hampir bertemu lagi dengannya.

Sungguh dalam hati kecilku masih tersimpan cinta untuknya. Mungkin aku seharusnya menemuinya dan meminta maaf padanya. Ya, harus.

Cepat-cepat kubereskan peralatanku ke dalam tas. Setengah berlari aku menuju perahu kecil yang akan menyeberang. Seorang bapak tua yang akan menjalankan perahu kayu itu mempersilahkanku naik. Beruntung masih ada tempat untukku. Dalam hati aku berdoa, semoga saja wanita itu di seberang tadi memang benar Jingga dan aku dapat dengan mudah menemukannya. Karena aku sudah lupa dimana letak rumah keluarganya. Mungkin nanti aku dapat bertanya pada orang-orang di sana.

Perahuku hampir sampai di seberang. Kulihat langit mulai berwarna oranye kemerahan. Senja telah menampakkan diri. Aku dan beberapa orang di perahu berdecak kagum. Sungguh indah lukisan Yang Maha Kuasa. Segera kuabadikan momen berharga ini dengan kameraku.

Makin lama warna merah di ujung langit itu makin jelas… namun disertai asap hitam membumbung tinggi. Si bapak tua menghentikan kayuhannya. Aku dan orang-orang di perahu terpana melihat kobaran api yang begitu cepat melahap pemukiman di sepanjang sungai itu.

Sempat kulihat selendang Jingga menari-nari di ujung senja.

Tanpa sadar, mataku basah.


3 comments:

Leave your comment please.. thank you ;)