Sunday, September 23, 2012

MENGHILANG

“Apa lihat-lihat?”

Aku merengut manja padamu yang sedari tadi melirikku dengan tatapan menggoda. Kamu tergelak.

“Masa ga boleh sih ngeliatin pacar sendiri..”

Aku tersipu mendengar katamu. 

“Aku cuma mastiin, ini beneran kamu bukan sih yang ada di sampingku sekarang.. Semoga aja ini bukan mimpi..” Kamu mempererat genggaman tanganmu.

Kali ini aku yang tergelak. “Segitunya..”

“Soalnya kan kamu pernah bilang, orang tuamu ngelarang kamu ke sini..”katamu.

“Iya sih.. Tapi gimana dong, aku udah kangen banget sama kamu..”kataku.

Kulirik dari sudut mataku kamu tersenyum senang.

“Aku juga kangen kamu sayang..” Kamu merangkul pinggangku.

“Jadi sekarang mau kemana lagi kita sayang?”tanyamu sambil membukakan pintu mobilmu untukku.

Malam telah semakin larut tanpa kami sadari. Namun di jalan tempat kita berada sekarang ini masih tetap ramai. Aku sudah lelah karena seharian ini kamu mengajakku berkeliling kotamu ini. Sekarang aku hanya ingin beristirahat karena besok pagi aku harus kembali ke kotaku.

Ponselku berbunyi. Irna, temanku yang juga teman satu kampus denganmu bertanya apa aku jadi menginap di kostannya. Aku pun berkata padamu kalau aku sudah lelah dan ingin diantar ke kostan Irna.

“Dimana kostannya Irna?” tanyamu. Aku menyebutkan alamatnya.

“Hmm ga jauh kok dari kostan aku..” katamu sambil menghidupkan mesin mobil.

"Eh kok malah ngeliatin aku bukannya jalanin mobilnya?"

“Sayang..”

Tiba-tiba kamu merengkuhku lembut dalam pelukanmu. Lalu kamu berbisik pelan di telingaku.

“Padahal aku masih ingin lebih lama lagi bersama kamu..”  

***

Tubuhku seketika gemetar, teringat pelukmu di malam itu. Kamu yang berkata bahwa tak akan apa-apa, semua akan baik-baik saja. Kamu yang berjanji tak akan pernah meninggalkanku.

Teringat setiap menit dan detik kejadian yang kita perbuat malam itu. Teringat rasa mual dan coretan di kalender yang kubuat dengan cemas beberapa minggu setelahnya. Teringat paniknya saat kumelihat hasil testpack yang kubeli diam-diam di apotik.

Teringat betapa murkanya ayah dan ibu yang mati-matian mempertahankan keberadaanku di rumah. Walau pada akhirnya aku memilih pergi untuk mencarimu.

Namun sejak itu kamu menghilang ..

Kuusap perutku yang semakin hari makin membesar. Terlambat sudah jika kini kumenyesali kebodohanku ..

For all the things that you said
For all the lines that we played
For all the very best dates
How could you do this to me
For all the love that we share
For all the times that we blend
For all the path we walk down
How could you do this to me
 How Could You - The Triangle (From OST Perahu Kertas)



-tulisan ini untuk #30HariLagukuBercerita dengan tema "Elegi Harapan Palsu"

Friday, September 21, 2012

TAK MUNGKIN

“Selamat Pagi…”

Sapaan riang di pagi hari inilah yang selalu kutunggu. Aku rela bangun lebih pagi dari biasanya demi mendapat senyum yang ceriakan hariku itu. Benar saja, saat melewatiku dia memberikan senyum yang sekejap memberi sensasi kupu-kupu di perutku. Dia berlalu pun aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

Namanya Fardi. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku datang di tempat ini. Beruntung sekali Tuhan mempertemukan kami dalam ruangan yang sama sehingga aku dapat melihatnya setiap saat kumau. Di antara yang lainnya, aku boleh berbangga hati karena posisiku yang cukup dekat dengannya. Wajar saja dia lebih memperhatikanku. Ah, ge er sekali ya aku ini. Tapi memang benar, aku lah yang lebih sering diajaknya bicara. Dia menceritakan apa saja padaku. Tentang keluarganya, cita-citanya, lagu kesukaannya bahkan dia juga sering melontarkan lelucon yang membuatku tak tahan untuk tidak tertawa. Bersamanya membuatku bahagia. Aku ingin selalu bersamanya.

“Hai..”

Astaga, tanpa sadar ternyata dia yang kupikirkan sedari tadi telah berdiri di hadapanku. Pipiku bersemu merah saat ia menyentuhku. 

“Hari ini aku akan mengenalkan seseorang padamu. Aku sering menceritakan tentangmu padanya dan dia ingin sekali bertemu denganmu...”

Aku memandangnya penuh tanya. Siapa yang ingin bertemu denganku?. Hatiku berdebar dipenuhi rasa penasaran. 

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Spontan kami langsung menoleh ke arah sumber suara. Dari pintu yang terbuka tampak seorang wanita cantik yang wajahnya... Hei wajahnya sekilas mirip denganku. Hanya saja penampilan kami berbeda jauh. Wanita itu manis dengan penampilan yang sederhana. Rambutnya digelung dengan anak rambut terurai di sisi telinganya, pakaiannya pun hanya kemeja pink lengan pendek dan celana panjang hitam. Wanita itu tak sebanding denganku.

Aku lebih terkejut lagi ketika wanita itu menghambur ke pelukan Fardi. Dan wajah Fardi saat itu, wajah yang tak pernah ia perlihatkan padaku sebelumnya. Seolah melupakan keberadaanku, mereka berpelukan seperti dua orang yang lama tak bertemu. Aku mendesah kesal. Siapa sih wanita ini?. Beraninya memeluk pujaan hatiku di depan mataku. Aku bertanya-tanya dalam hati.

Wanita itu sekarang berjalan menujuku dan Fardi mengekor di belakangnya. Ia tersenyum ramah padaku dan kubalas dengan senyum masam. Nah sekarang kita lihat apa maunya padaku.

“Oh jadi ini ya yang sering kamu ceritakan itu Far?” Wanita itu mendekat untuk melihat sosokku lebih jelas. Wajahnya terlihat senang melihatku. 

“Benar sekali. Gimana? Ini salah satu favoritku. Kuberi nama Veronica..”

Wanita itu mengangguk-angguk dan tampak masih takjub melihatku. "Kamu hebat.. ia mirip sekali denganku.."

“Ah iya, aku lupa mengenalkan kalian..” Fardi kini merangkul wanita itu dan memandangnya mesra.

“Ini Fira, yang tadi ingin kukenalkan padamu Veronica.. Dia kekasihku yang baru datang dari Inggris. Aku melukismu untuk mengobati rasa rinduku padanya.. Dan dua hari lagi kami akan menikah..”

Hatiku sakit mendengarnya. Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal jika tak mungkin melawan takdirku ini.
Seandainya saja aku bukan sebuah lukisan karyamu yang terpajang di ruang galerimu ini, pasti akulah yang akan memilikimu..

Indah senyumanmu takkan bisa pudar
Makin indah di hatiku
Walau ku sadari itu cinta yang tak mungkin jadi
Elyzia Muchalea - Cinta Yang Tak Mungkin (from OST Perahu Kertas)


-Tulisan ini untuk #30HariLagukuBercerita

Sunday, September 16, 2012

YANG PERTAMA

Beberapa hal luar biasa dimulai dari hal yang biasa. Seperti itulah pertemuan kita. Saat itu kita sama-sama berlindung dari derasnya hujan di depan warung sekolah. Bertemu tatap mata pertama kalinya dan sekejap kamu membuat debar jantungku seperti larinya kuda.

“Sammy Ramdhan..”

Tanganmu terulur padaku sambil menyebut namamu. Sinaps otakku dengan cepat mengirim deretan kata itu dan menyimpannya dalam memoriku. Sejak itu namamu selalu menjadi trending topic dalam buku harianku. Bahkan mengingat kamu pun kumasukkan dalam daftar hobiku. 

Aku tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan ketika Ia menempatkan kita dalam ruang kelas yang sama di tahun kedua. Aku tak pernah bosan menatap kamu dari tempat dudukku yang berseberangan denganmu. Mencuri-curi lihat sedang apa dirimu. Lalu kutahu bahwa kamu menguap berkali-kali sepanjang pelajaran Sejarah, memasang wajah serius saat pelajaran fisika dan selalu mendapat nilai tertinggi dalam bahasa Inggris.

Aku masih ingat percakapan kita berjalan beriringan menuju laboratorium fisika pada suatu saat. Kamu menceritakan betapa kamu mengagumi Einstein, Galileo, juga teori-teori yang kerap membuatku sakit kepala ketika mempelajarinya. Tapi aku suka mendengarkanmu bercerita. Aku pun masih ingat saat kamu menarikku menuju meja praktikum di sudut paling belakang dan memintaku untuk satu kelompok denganmu. Kamu berjanji akan mengajariku hal-hal yang tidak kumengerti tentang fisika dan sebagai gantinya aku juga mengajarimu tentang biologi. Saat itu juga aku ingin bertanya padamu, Apa kamu juga dapat menjelaskan arti debaran yang makin lama makin hebat ketika kamu beredar di sekelilingku. Seolah-olah kamu memiliki magnet yang membuatku selalu tertuju padamu.

Teringat percakapanku dengan sahabat-sahabatku pada suatu siang..

“Kamu suka sama Sammy ya, Bunga?” pertanyaan Putri, seorang sahabatku saat kami makan siang membuatku tersedak.

“Ga perlu disembunyikan. Kita semua udah tau kok..” kata Tia, sahabatku yang lain sambil senyum-senyum menggodaku.

“Tapi dia ga suka aku..” jawabku mengambang. Pandanganku menerawang jauh ke arah lapangan basket dimana ada kamu sedang bermain dengan teman-temanmu.

“Memangnya kamu udah pernah nanya?” selidik Tia. Aku menggeleng.

“Belum pernah nanya kenapa udah bisa menyimpulkan seperti itu?”

“Tanya dong.. Kesempatan tinggal beberapa bulan lagi lho..”

Aku terdiam. Kata-kata sahabat-sahabatku begitu menohokku. Tanpa terasa sudah dua tahun aku memendam perasaanku. Melewati hari-hari bersamamu dengan menahan rasaku. Kuisi malam-malamku dengan doa agar cinta ini tak hanya kurasa sendiri. Masa putih abu-abu kami akan segera berakhir. Kesempatanku tinggal sedikit lagi. Mungkin kelak kami tak pernah bertemu lagi. Haruskah aku mengungkapkannya sebelum kami berpisah nanti. Namun aku tak ingin mendengar hal yang tak kuinginkan terucap darinya. Aku tak ingin merusak segala cerita indah yang pernah kita jalani.

“Aku belum siap untuk patah hati..” akhirnya itu menjadi keputusan terakhirku diiringi tatapan kecewa sahabat-sahabatku.

***

Sosokmu begitu memesona di hari wisuda kita. Aku memuaskan mataku untuk merekam gambar-gambarmu ke dalam ingatanku. Tak lupa aku sudah membeli satu fotomu yang terpotret oleh fotografer di depan gedung wisuda dengan diam-diam.

“Bunga..”
Aku terkejut saat kamu melambai ke arahku. Kamu berlari-lari menghampiriku.

“Ah, syukurlah aku kira ga bisa ketemu kamu lagi..” katamu.

Setangkai mawar kamu ulurkan padaku. Aku menerimanya ragu-ragu.

“Ini ucapan terima kasih untuk kebersamaan kita selama ini.. Kamu baik sekali..”

Aku menciumi mawar itu.
“Wangi kan, seperti kamu, Bunga.. “ katamu yang seketika memerahpadamkan mukaku.

“Sama-sama Sam.. Kamu juga baik sekali sama aku.. “ hanya itu yang keluar dari bibirku. Padahal begitu banyak kata yang tersusun dalam pikiranku.

“Oh ya Bunga…” belum selesai kata-katamu terucap, terdengar keluargamu memanggilmu.
Aku pun sadar sudah tiba saatnya berpisah.

“Sampai ketemu lagi ya Sam..” Aku mengangguk dan menyilahkanmu berlalu.

Kamu menggenggam tanganku “Semoga kita bisa ketemu lagi..” katamu sebelum meninggalkanku. 

Aku mengaminkannya dalam hati.


***
Teruntuk Sammy,
Apa kabarmu? Aku di sini tidak begitu baik-baik saja. Hariku tidak secerah biasanya, karena matahariku yang tiada lain adalah kamu tak ada lagi di sisiku.
Begitu banyak kenangan yang tak habis tentangmu. Aku tidak melupakanmu. Belum. Aku masih mengingatmu sampai ke hal terkecil yang mungkin kau lupa. Pertemuan pertama kita misalnya. Pertemuan yang membuatku mencandumu. Atau tempat yang pertama kali kita datangi berdua saja contohnya. Aku tak ingin melupakannya. Seperti kamu yang tetap abadi dalam ingatan.
Aku menyayangi kamu teramat dalam Sam.. Sejak pertama jumpa hanya kamu satu-satunya. Kamu yang mendebarkan jantungku saat kita bersama. Buatku merasa ada yang kurang saat kamu tak ada. Namun maafkan aku yang terlalu takut untuk menerima kenyataan seandainya perasaanku kita tidaklah sama. Padahal sesungguhnya dalam hatiku bertanya-tanya, bagaimana perasaanmu padaku? 
Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, waktu akan menyampaikan..
Bahwa kau pernah menjadi yang pertama dalam hati dan pikiran seorang perempuan yang tak percaya diri akan dapat mewujudkan cintanya..

Aku menutup lembar terakhir dari buku harianku yang baru selesai kubaca. Lembaran itu telah basah oleh air mata yang tak henti mengalir sejak kulihat jasadmu yang terbaring tenang di depan mataku beberapa hari lalu. Pesawat yang mengantarkanmu ke negeri seberang untuk menggapai citamu mengalami kecelakaan.
Di hadapan tanah basah bertabur bunga dan nisan berukirkan namamu, kutumpahkan seluruh rasaku. Rasa pedih dan kehilangan cinta pertamaku yang tak akan pernah tersampaikan.  


Kau tak sempat tanyakan aku
Cintakah aku padamu..

Cinta Pertama (Sunny) - Bunga Citra Lestari 

-ditulis untuk #30HariLagukuBercerita dengan tema "Cinta Pertama"

Saturday, September 8, 2012

BALAS DENDAMKU PADAMU


Duduk berhadapan denganmu saat ini seperti mimpi buruk untukku. Tanpa bicara, hanya denting sendok garpu dengan piring yang sesekali terdengar. Aku lapar hanya saja bersamamu saat ini membuat nafsu makanku hilang.

Dimulai dengan pertemuan yang tak kuinginkan beberapa saat yang lalu. Kamu bersikeras menungguku di depan rumah dan akhirnya seperti inilah jadinya. Makan malam yang suram.

Kutatap kamu di depanku. Tak banyak berubah. Wajahmu tetap tampan, tapi sedikit terlihat kurus kurasa. Teringat alasanmu menemuiku, kangen katamu. Berbagai perasaan kamu ungkapkan padaku. Cinta, sayang, dan aku tak dapat menahan sinisku saat kau ucapkan itu.

Mengapa kamu baru sadar sekarang? Padahal berbulan-bulan lalu kamu katakan sudah tak lagi sayang. Dengan teganya kau membuatku terbuang.

Aku sudah menandaskan makan malamku saat handphone-ku di meja bergetar. Aku tersenyum begitu melihat nama yang tertera di layar. Kuabaikan tatapan penuh tanya darimu dan pamit menjauh untuk menjawab panggilan itu.

"Siapa Nay?" tanyamu saat aku kembali duduk di hadapannya.

"Bos-ku.." jawabku singkat. Lalu kembali menandaskan makan malamku.

Tak lama setelah itu seseorang menghampiri meja tempatku dan kamu berada. Aku tersenyum menyambut kedatangannya.

"Kenalin Ndre, ini tunanganku, Nico.." kuperkenalkan dia padamu yang menatapku tak percaya.

"Apa maksudanya ini, Nay?"tanyamu tanpa menyambut uluran tangan Nico.

Aku bangkit dari kursiku. Mengapit lengan tunanganku itu.

"Kalau udah ga ada lagi yang mau diomongin, aku pulang sekarang.. Thanks untuk dinner-nya Ndre.." kuabaikan pertanyaanmu dan kuberikan senyum untukmu.

Senyum pertanda dendamku padamu terbalaskan sudah.





-terinspirasi lagu Marcell - Mendendam

Thursday, September 6, 2012

GUTEN MORGEN DARI INDONESIA

Aku terkantuk-kantuk menatap power point pada layar laptopku. Besok aku mendapat giliran maju untuk presentasi kasus pasien yang sedang kutangani di bangsal. Sebenarnya power point ini sudah selesai kukerjakan tapi aku belum bisa menutup laptopku karena aku ada janji dengan pacarku untuk ber-skype. Hubungan cinta terpisah jarak puluhan kilometer dan juga kesibukan yang berbeda membuat kami tidak bisa sering berkomunikasi. Hanya dari satu email yang datang setiap harinya kami mengetahui kabar masing-masing. Isi email itu bisa sangat panjang (karena menceritakan rutininas seharian itu) namun bisa juga singkat karena terlalu lelah untuk mengetik.

Aku berpacaran dengan Dina sudah hampir dua tahun dan baru saja memulai hubungan jarak jauh sekitar enam bulan belakangan. Dina memutuskan untuk meneruskan kuliahnya ke Jerman karena mendapat beasiswa dari kampusnya. Pacarku itu memang membanggakan. Tidak seperti aku yang malas-malasan karena jenuh dengan pendidikan dokterku yang tak selesai-selesai. Walaupun begitu Dina yang berbeda jurusan denganku itu selalu menyemangatiku. Karena itu aku sedih sekali saat mendengar dia akan meninggalkanku. Membuat jarak kami menjadi semakin berjarak.

Aku jadi teringat pertengkaran kami beberapa hari sebelum keberangkatan Dina. Meributkan hal-hal sepele yang sebenarnya itu hanya ketakutan dalam pikiran kami saja.

“Kamu ga percaya aku?” Mata indah Dina menantangku.
“Memangnya kamu bisa dipercaya?” balasku yang segera menyulut emosinya.

Ya, siapa yang tak khawatir. Bisa saja nanti dia bertemu seseorang yang lebih baik dariku di sana.

“Kamu sendiri emang bisa dipercaya? Dengan teman-teman perempuanmu yang banyak, cantik-cantik, dan dokter semua itu …” Dina siap-siap meledak.
“Tapi mereka kan bukan kamu …” potongku.
Seketika itu aku merengkuhnya, dan ia tergugu dalam pelukku.

Kekhawatiran dan ketakutan akan dilupakan itulah yang kami masalahkan sampai akhirnya pikiran bijakku tiba-tiba muncul.
“Kalau bukan kita yang mempertahankan kita, siapa lagi?” kukatakan itu padanya.
dan ketegangan antara kami pun sedikit mereda.

Bahkan soal mengantar ke bandara pun kami ributkan. Dina bersikeras tidak ingin aku ikut mengantar sampai bandara. Tentu saja aku marah. Kami bukan tidak akan bertemu sehari dua hari. Ini berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun lamanya. Pastilah aku ingin melihat wajahnya dan memeluknya di detik-detik perpisahan kami.

“Kalau kamu ikut nganterin aku, aku ga sanggup lihat kamu.. Nanti aku jadi lemah dan ga bisa jauh dari kamu..”
Alasan Dina yang ia ucapkan sambil berurai air mata itu langsung meredakan emosiku. Aku pun mengalah dan ikut ke bandara dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuannya. Sayang sekali tidak terjadi adegan bandara Rangga dan Cinta dalam film AADC saat itu.

Suara pulpenku yang terjatuh membuyarkan lamunanku. Kulirik jam digital di samping kanan bawah layar laptopku sudah menunjukkan tengah malam. Saat ini sedang summer di Jerman jadi aku dan Dina berbeda waktu lima jam. Harusnya Dina sekarang sudah pulang ke apartemennya tapi kenapa balon chat dia masih offline saja?.

Aku menghela napas. Mataku semakin berat, rasanya aku tak sanggup menunggu Dina online. Empat jam lagi aku sudah harus bangun untuk follow-up pasien ke rumah sakit. Sebelum beranjak ke kasur aku pun mengetikkan sesuatu untuknya.

Maaf sayang skype-annya kita reschedule ya.. aku udah nunggu kamu daritadi tapi kamu lama online-nya. Aku ngantuk banget, nanti jam 4 udah harus ke RS. Kamu jangan telat sholat dan makan ya.

Guten Morgen dari Indonesia.. Ich liebe dich:*

 PS : KANGEN BANGET TAU! CEPET PULANG! :p

***

Aku masuk ke dalam apartemenku dengan terburu-buru. Tas dan buku-buku kulempar asal saja ke sudut ruangan. Kulihat dua jam dinding yang tergantung di ruang tengah. Satu menunjukkan waktu Jerman dan satu lagi waktu Indonesia.

Aduh, pasti Mas Yuda udah tidur..

Tergesa-gesa kubuka laptopku di atas meja. Sambil merutuki loading-nya yang lama aku gelisah memikirkan pacarku nun jauh di sana. Pasti ia kesal karena lama menungguku.

Hari ini kami memang berjanji untuk skype­-ing karena sudah lama sekali tidak mendengar dan melihat wajah masing-masing. Enam bulan berpisah belum pernah kami berkomunikasi secara langsung. Selama ini hanya lewat email karena aku dan pacarku itu sibuk sekali. Aku rindu sekali melihat wajahnya dan mendengar suaranya. 

Mas Yuda plis jangan tidur dulu..

Sebuah pesan offline kuterima begitu akun skype-ku terbuka.

Aku menghela napas. Jadi rinduku ini harus tertunda untuk langsung disampaikan. Aku jadi kesal dengan diriku sendiri yang tadi berlama-lama dulu ngobrol di kampus dengan teman-teman.

Kuusap air di sudut mataku lalu kuketikkan sebuah balasan untuk pacarku yang sudah tertidur pulas itu.

Maaaaafff aku baru pulang sayang… Iya, kamu juga jangan telat makan dan sholat. Periksa pasien yang bener ya.. Good night dari Jerman..
PS : DASAR TUKANG MOLOR TUNGGU PACARNYA BENTAR KEK, NYEBELIN! AKU LAGI GA SAYANG SAMA KAMU, TAPI AKU LAGI KANGEN BANGET SAMA KAMU :*


What time is it where you are?
I miss you more than anything
Back at home you feel so far
Waitin' for the phone to ring
It's gettin’ lonely livin’ upside down
I don't even wanna be in this town
Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's driving me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged

Simple Plan - Jet Lag




-ditulis untuk #30HariLagukuBercerita dengan tema LDR
inspirasi cerita dari temanku Yuga dan pacarnya. Gw ga tau cerita kalian kayak gimana, jadi ini cuma imajinasi gw aja loh yaa :D

BUKAN AKU


Dia datang lagi.

Kali ini tidak melalui sebuah kado cantik, pesan-pesan manis maupun dering telepon yang benar-benar tak kupedulikan lagi.

Saat ini dia berada di hadapanku. Ya, tepat di depanku. 

Entah angin apa yang sanggup membangunkannya sepagi itu hingga ia dapat tiba di depan rumahku ketika aku akan mengeluarkan mobilku dari garasi.

"Mau apa lagi?" ketus kataku menyapanya. Wajahku pun kubuat tak bersahabat.

Padahal sesungguhnya aku lemah melihatnya. Perasaan benci, (masih) sayang, rindu beradu dalam isi kepalaku. Tidak, aku sudah bertekad untuk melupakan dan merelakannya! Aku harus kuat! Kusemangati diriku sendiri.

"Aku mau antar kamu ke kantor.." jawabmu. Matamu tegas memandangku.

Aku menggeleng. "Aku bawa mobil Ndre.. Makasih untuk tawarannya.." Kubergegas membuka pintu mobilku. Tetapi ia menghalangi.

"Please, Nay..." Ia memohon.

Hatiku mencelos. Haruskah aku mengalah?.

Baiklah, ini yang terakhir. Hatiku memutuskan.

Kupanggil Pak Sardi, supir keluargaku dan kuserahkan kunci mobilku padanya. Lalu kumelenggang ke arah mobil Andre. Dia tampak senang melihatku akhirnya menerima tawarannya.

"Langsung ke kantor ya Ndre.. Aku ga mau mampir-mampir.. Kalau mau ngomong, sekarang aja." Kataku saat ia menghidupkan mesin mobil.

Andre hanya tersenyum sambil mengangguk. 

Sepanjang jalan aku diam saja menatap jalan. Andre pun sepertinya bingung untuk memulai pembicaraan. Ia hanya basa-basi menawarkan sarapan lalu selebihnya hanya menyetir saja. Aku kesal sekali melihat sikapnya.

Kubergegas keluar dari mobilnya setiba di parkiran kantor. Andre berteriak memanggilku. Aku tak mempedulikannya dan mempercepat langkahku. 

"Nay, Nay.. " 

Akhirnya ia dapat mensejajari langkahku. Aku berhenti.

"Apa?"

"Aku udah putus Nay sama dia." kata Andre sambil menunduk.

"Oh. Lalu?" Aku berguman tak sabar.

Andre mengambil tanganku dan menggenggamnya.

"Nay, aku benar-benar menyesal.. Aku mohon kamu maafin salahku.. Tolong Nay, kali ini aku ga akan mengkhianati kamu lagi.. Aku.. janji Nay.. Sungguh."

Ia mencium tanganku.

Beginilah curangnya lelaki dan lemahnya hati wanita. Sekejap aku diliputi kebimbangan dibuatnya.

"Maaf Ndre.." Akhirnya kulepaskan tanganku. Kutatap mata lelaki yang pernah menjadi kebanggaan hidupku itu.

"Aku udah kasih kamu kesempatan beberapa kali kemarin, tapi kamu sia-siakan. Seperti keputusanku kemarin.."

Aku menghela napas. "Tidak, Ndre.. Aku ga bisa lagi. Pulanglah.."

"Tapi, Nay.."

"Pulanglah.. Carilah hati lain yang dapat kau sebut itu rumah.. Tetapi bukan aku.."

Kulihat Bella, sahabatku melambai dari ujung koridor. Aku pun bergegas menghampirinya dan meninggalkan mantan kekasihku yang meratapi penyesalannya.



-tulisan ini untuk #FF2in1 NulisBuku dengan tema : Mantan Kekasih -Sheila on 7
lanjutan dari "Tega" dan "Melepaskanmu"

Monday, September 3, 2012

MELEPASKANMU


Pagi ini aku disapa oleh sebuah bungkusan berpita merah jambu yang tergeletak di atas mejaku.

Tak perlu kupegang pun aku sudah dapat menebak siapa pengirimnya.

Aku sedang menimbang-nimbang apakah akan kubuka sekarang atau tidak bungkusan berbentuk persegi dan terbungkus kertas kado yang cantik itu ketika tiba-tiba sebuah sms kuterima.

Kalau kirimannya sudah sampai, kabarin ya J

Begitu singkat. Aku mengabaikannya.

Biarlah, dia pasti tahu aku tak akan membalasnya. Cepat-cepat kumasukkan bungkusan yang belum kubuka itu ke dalam laci. Biarlah kubuka nanti-nanti saja. Toh dibuka sekarang atau nanti tidak akan mengubah apa-apa.

***

Benar saja, berhari-hari kiriman itu benar-benar kuabaikan. Terselip begitu saja dalam laci berisi tumpukan kertas-kertas laporan yang kubuang. Bella, sahabatku di tempat kerja yang berada di samping mejaku yang menyelamatkannya sebelum dibereskan oleh si Cecep, office boy ruangan kami.

“Nay, ini buat kamu loh.. Hampir aja dibuang si Cecep..”
“Ya ampun.. aku lupa.. thanks Bel..”

Memang benar-benar lupa. Aku menghitung hari sejak aku menerimanya. Sudah lewat hampir seminggu. Mungkin tak apa jika kubuka sekarang.

“Dari siapa sih? Kok kamu kayak nganggep ga penting gitu..” selidik Bella sambil memperhatikanku membuka pembungkus kado itu.
“Emang engga penting..” gumanku.
Isinya sebuah shawl cantik dan kartu ucapan. Benar dugaanku. Aku menghela napas. Seluruh tubuhku langsung bereaksi aneh.

“Andre?” Bella menatapku ingin tahu.
Aku mengangguk.
“Ngajak balikan lagi?”
“Begitulah..” Kuberikan kartu itu pada Bella.
“Terus?”
Bella mengembalikan kartu itu padaku setelah membacanya tanpa komentar. Dia memang begitu. Tak akan berkomentar kalau tidak diminta. Katanya ia tidak mau mempengaruhi pikiran orang.

“Ga semudah itu kan Bel..” kata-kataku mengambang. 

Kuingatkan padanya kejadian beberapa minggu yang lalu. Pengakuan berani dari seorang Andre yang membuatku hancur hingga berhari-hari. Ya, ia mengaku jika telah menjalin hubungan cinta dengan wanita lain selain diriku.

Menangis dan menangis. Mataku sembab dan penampilanku berantakan selama itu. Andre bukannya sekali ini mengajakku kembali padanya. Sejak kejadian malam dia memutuskanku ia sudah mengirimkan pesan-pesan bahkan meneleponku dengan mengatakan kalau ia menyesal telah memutuskanku dan ingin kembali padaku.

Aku bukannya tak memaafkannya. Bahkan aku pun sempat menerima penyesalannya dan mencoba menata lagi jalan kami. Nyatanya, aku tak bisa merebut lagi tempatku di hatinya. Andre tak berubah. Cinta lain itu pun telah masuk terlalu dalam, menggantikanku sepenuhnya. Aku merasa bodoh jika harus bersaing seperti itu.

Bahwa semuanya bukan karena tak ada lagi sayang. Hanya saja kesabaran dan airmataku habis sudah. Kesempatan kedua yang kuberikan disia-siakannya. Janji menunggalkanku hanya di bibirnya saja. 

"Nay…”

Bella membuyarkan lamunanku dengan mengusap air mata yang tanpa sadar mengalir di pipiku.
Aku pun tergugu dalam pelukan Bella.

“Aku.. masih sangat sayang sama dia, Bel.. Tapi ga sanggup rasanya kalau harus sakit hati terus-menerus..”

“Jadi?”

“Aku akan lepasin dia.. “

Ya, apapun yang ia katakan dan lakukan terserahlah. Bagiku cukup sudah.. Inilah waktu yang tepat untuk berpisah selamanya.



-tulisan ini untuk #FF2in1 nulis buku dengan tema : Waktu Yang Tepat Untuk Berpisah - Sheila on 7
lanjutan dari "Tega"

TEGA

Aku dan kamu duduk berdampingan malam itu. Tangan kirimu menggenggam erat tangan kananku sementara tangan kananmu menyeimbangkan stir livina abu-abu yang membawa kita melalui jalan ibukota yang sedikit tersendat. Tak ada pembicaraan saat itu. Hanya sesekali kubersenandung mengikuti alunan musik dari radio lalu kulirik kamu yang tersenyum di sampingku.

“Senyum-senyum aja dari tadi..” aku memecah keheningan.
Kamu tertawa. “Masa mau marah-marah sih..”

Lampu merah menghentikan laju mobilmu.
Sambil menunggu kamu menunjuk botol aqua yang ada di jok belakang dengan arah matamu. Aku mengerti maksudmu dan segera mengambilkannya.

“Lepasin dulu tangan aku, baru minum..”
“Ah iya..”

Dan genggaman tangan kita pun terlepas. Entah mengapa jantungku pun ikut berdegup hebat. Seolah tak rela rasanya melepaskannya.

“Makasih..” katamu sambil mengulurkan botol yang telah berkurang setengah isinya itu padaku.
“Kamu ga minum?”
Aku menggeleng.
“Nanti kebelet ya?” tebakmu sambil terbahak. Wajahku memerah malu. Tidak, bukan malu, tepatnya aku tersanjung ternyata ingatanmu sampai ke hal sekecil itu.

Akhirnya lampu hijau pun menyala. Lagi, tanganmu membawa tanganku turut serta mengubah posisi gigi. Bohong kalau bilang aku tidak senang. Dusta jika kukatakan aku tidak bahagia.

Tetapi aku juga merasa cemas. Aku tahu jika kamu bersikap manis seperti ini pasti ada apa-apanya. Seharian ini kamu memperlakukanku bagaikan putri raja. Aku senang, tentu saja. Siapa yang tidak senang bertemu seseorang yang begitu disayang setelah perdebatan tentang rindu yang tak tersampaikan?. Aku senang, sungguh. Tapi tidak seperti ini. Ada berjuta tanya tentangmu yang tersimpan di hati. Ingin rasanya kuutarakan namun … apakah ini saat yang tepat?.

Harapku, sebelum usai perjalanan ini kamu memberiku jawab tanpa kupinta.

“Aku.. ah, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan Nay..”

Ternyata Tuhan mengabulkan doaku.

Aku tak langsung menjawabmu. Hanya saja dari caraku memandangmu kumau kautahu bahwa aku menunggu.
Lambungku segera memberi sensasi yang tak menyenangkan. Cepatlah, jangan buat aku makin penasaran.

“Aku.. selingkuh..” katamu perlahan seraya menepikan mobil di depan sebuah rumah makan.
Tentu saja bukan untuk mengajakku makan malam. Kamu pasti butuh konsentrasi untuk mengatur kata-kata.

Kemudian seperti ada yang menyambar pendengaranku saat itu dan hanya kata "apa" yang terucap dari bibirku. Padahal aku tak ingin kamu mengulanginya. Karena kata-katamu itu sekejap memberiku luka.

“Sudah hampir tiga bulan ini aku mencintai seseorang selain kamu.. Selama kita tidak bertemu.. Maaf.. Tentu saja aku masih mencintaimu Nay.. Tapi aku harus memilih.. dan Nay, maafkan aku, aku ga bisa ninggalin dia..” terbata-bata kamu menjelaskan.

Lama aku terdiam. Tidak berusaha mencelamu. Aku malah mercerna kembali setiap katamu.
Selingkuh. Cinta orang lain. Tiga bulan. Masih cinta aku. Ga bisa ninggalin. Dia.
Jadi sekarang ada 'dia' di antara aku dan kamu.
Ah, mungkin inilah jawaban resahku. Resah selama jarak memisahkan kita. Lalu, sekarang aku harus bagaimana?. Aku sungguh tidak siap dengan kejutan ini.

“Kamu ga papa, Nay?” tanganmu menyentuh bahuku dan tanpa sadar aku menepisnya.

Hanya lelaki bodoh yang mengira wanitanya baik-baik saja setelah mendengar lelaki yang begitu dicintainya tega menduakannya. 

Nafasku sesak. Wajahku memanas. Aku marah, sudah jelas. Sedih, apalagi. Bagaimana mungkin kebersamaan tiga tahun terkalahkan hanya dalam hitungan bulan. Kuusap genangan di sudut mataku. Jangan menangis di sini, kumemohon pada mataku.

Di tengah rasa rinduku yang menggebu
Kau bersama dia
Di saat-saat ku menunggu dirimu
Kau bersama dia

“Aku.. turun di sini aja..” Akhirnya bibirku berucap. Aku pun bersiap membuka pengunci pintu mobil.
“Nggak.” Dengan sigap kamu mencegahku. Terlalu kuat, aku tak sanggup melawanmu.
“Aku mau lihat kamu sampai rumah dengan baik-baik saja.” Kamu pun kembali menyalakan mesin.
Aku mengangkat bahu. Pasrah.

“Masih banyak yang mau aku omongin sama kamu Nay..”

Tuhan.. penjelasan apalagi yang mau dia katakan. Toh semuanya hanya akan membuatku semakin berdarah. 

Kau bunuh hatiku
Saat ku bernafas untukmu

Selanjutnya tak kudengar lagi apapun ceritamu sepanjang jalan itu. Kututup hati dan telingaku. Sampai akhirnya kulepas kamu di depan pintu rumahku.

“Jadi, kita udah ga ada apa-apa lagi ya Ndre.. Makasih.. untuk hari ini..” kataku sambil bergegas menutup pagar.
Aku tak sanggup melihat wajahmu lagi. Jika aku melihatmu lagi, akan makin berat untuk menyudahi segalanya.
Namun kembali kamu menahanku. “Nay, sampai sekarang aku masih cinta kamu.. Maafin aku..”

Bila kau cinta aku
Mengapa kau tipu diriku
Tuk bersama dia

Aku tersenyum. Pahit. Lalu pintuku pun tertutup di depan matamu. 



Picture taken by me


-ditulis untuk #30HariLagukuBercerita dan #17tahunglenn dari lagu Tega