Thursday, September 6, 2012

GUTEN MORGEN DARI INDONESIA

Aku terkantuk-kantuk menatap power point pada layar laptopku. Besok aku mendapat giliran maju untuk presentasi kasus pasien yang sedang kutangani di bangsal. Sebenarnya power point ini sudah selesai kukerjakan tapi aku belum bisa menutup laptopku karena aku ada janji dengan pacarku untuk ber-skype. Hubungan cinta terpisah jarak puluhan kilometer dan juga kesibukan yang berbeda membuat kami tidak bisa sering berkomunikasi. Hanya dari satu email yang datang setiap harinya kami mengetahui kabar masing-masing. Isi email itu bisa sangat panjang (karena menceritakan rutininas seharian itu) namun bisa juga singkat karena terlalu lelah untuk mengetik.

Aku berpacaran dengan Dina sudah hampir dua tahun dan baru saja memulai hubungan jarak jauh sekitar enam bulan belakangan. Dina memutuskan untuk meneruskan kuliahnya ke Jerman karena mendapat beasiswa dari kampusnya. Pacarku itu memang membanggakan. Tidak seperti aku yang malas-malasan karena jenuh dengan pendidikan dokterku yang tak selesai-selesai. Walaupun begitu Dina yang berbeda jurusan denganku itu selalu menyemangatiku. Karena itu aku sedih sekali saat mendengar dia akan meninggalkanku. Membuat jarak kami menjadi semakin berjarak.

Aku jadi teringat pertengkaran kami beberapa hari sebelum keberangkatan Dina. Meributkan hal-hal sepele yang sebenarnya itu hanya ketakutan dalam pikiran kami saja.

“Kamu ga percaya aku?” Mata indah Dina menantangku.
“Memangnya kamu bisa dipercaya?” balasku yang segera menyulut emosinya.

Ya, siapa yang tak khawatir. Bisa saja nanti dia bertemu seseorang yang lebih baik dariku di sana.

“Kamu sendiri emang bisa dipercaya? Dengan teman-teman perempuanmu yang banyak, cantik-cantik, dan dokter semua itu …” Dina siap-siap meledak.
“Tapi mereka kan bukan kamu …” potongku.
Seketika itu aku merengkuhnya, dan ia tergugu dalam pelukku.

Kekhawatiran dan ketakutan akan dilupakan itulah yang kami masalahkan sampai akhirnya pikiran bijakku tiba-tiba muncul.
“Kalau bukan kita yang mempertahankan kita, siapa lagi?” kukatakan itu padanya.
dan ketegangan antara kami pun sedikit mereda.

Bahkan soal mengantar ke bandara pun kami ributkan. Dina bersikeras tidak ingin aku ikut mengantar sampai bandara. Tentu saja aku marah. Kami bukan tidak akan bertemu sehari dua hari. Ini berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun lamanya. Pastilah aku ingin melihat wajahnya dan memeluknya di detik-detik perpisahan kami.

“Kalau kamu ikut nganterin aku, aku ga sanggup lihat kamu.. Nanti aku jadi lemah dan ga bisa jauh dari kamu..”
Alasan Dina yang ia ucapkan sambil berurai air mata itu langsung meredakan emosiku. Aku pun mengalah dan ikut ke bandara dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuannya. Sayang sekali tidak terjadi adegan bandara Rangga dan Cinta dalam film AADC saat itu.

Suara pulpenku yang terjatuh membuyarkan lamunanku. Kulirik jam digital di samping kanan bawah layar laptopku sudah menunjukkan tengah malam. Saat ini sedang summer di Jerman jadi aku dan Dina berbeda waktu lima jam. Harusnya Dina sekarang sudah pulang ke apartemennya tapi kenapa balon chat dia masih offline saja?.

Aku menghela napas. Mataku semakin berat, rasanya aku tak sanggup menunggu Dina online. Empat jam lagi aku sudah harus bangun untuk follow-up pasien ke rumah sakit. Sebelum beranjak ke kasur aku pun mengetikkan sesuatu untuknya.

Maaf sayang skype-annya kita reschedule ya.. aku udah nunggu kamu daritadi tapi kamu lama online-nya. Aku ngantuk banget, nanti jam 4 udah harus ke RS. Kamu jangan telat sholat dan makan ya.

Guten Morgen dari Indonesia.. Ich liebe dich:*

 PS : KANGEN BANGET TAU! CEPET PULANG! :p

***

Aku masuk ke dalam apartemenku dengan terburu-buru. Tas dan buku-buku kulempar asal saja ke sudut ruangan. Kulihat dua jam dinding yang tergantung di ruang tengah. Satu menunjukkan waktu Jerman dan satu lagi waktu Indonesia.

Aduh, pasti Mas Yuda udah tidur..

Tergesa-gesa kubuka laptopku di atas meja. Sambil merutuki loading-nya yang lama aku gelisah memikirkan pacarku nun jauh di sana. Pasti ia kesal karena lama menungguku.

Hari ini kami memang berjanji untuk skype­-ing karena sudah lama sekali tidak mendengar dan melihat wajah masing-masing. Enam bulan berpisah belum pernah kami berkomunikasi secara langsung. Selama ini hanya lewat email karena aku dan pacarku itu sibuk sekali. Aku rindu sekali melihat wajahnya dan mendengar suaranya. 

Mas Yuda plis jangan tidur dulu..

Sebuah pesan offline kuterima begitu akun skype-ku terbuka.

Aku menghela napas. Jadi rinduku ini harus tertunda untuk langsung disampaikan. Aku jadi kesal dengan diriku sendiri yang tadi berlama-lama dulu ngobrol di kampus dengan teman-teman.

Kuusap air di sudut mataku lalu kuketikkan sebuah balasan untuk pacarku yang sudah tertidur pulas itu.

Maaaaafff aku baru pulang sayang… Iya, kamu juga jangan telat makan dan sholat. Periksa pasien yang bener ya.. Good night dari Jerman..
PS : DASAR TUKANG MOLOR TUNGGU PACARNYA BENTAR KEK, NYEBELIN! AKU LAGI GA SAYANG SAMA KAMU, TAPI AKU LAGI KANGEN BANGET SAMA KAMU :*


What time is it where you are?
I miss you more than anything
Back at home you feel so far
Waitin' for the phone to ring
It's gettin’ lonely livin’ upside down
I don't even wanna be in this town
Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy
You say good morning
When it's midnight
Going out of my head
Alone in this bed
I wake up to your sunset
And it's driving me mad
I miss you so bad
And my heart, heart, heart is so jetlagged

Simple Plan - Jet Lag




-ditulis untuk #30HariLagukuBercerita dengan tema LDR
inspirasi cerita dari temanku Yuga dan pacarnya. Gw ga tau cerita kalian kayak gimana, jadi ini cuma imajinasi gw aja loh yaa :D

4 comments:

  1. Keren yu.... Hehehehe... Ada yg sama bgt...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe masa sih..
      Makasih yuga komennya :)

      Delete

Leave your comment please.. thank you ;)