Wednesday, March 14, 2012

AKU SAKIT KARENAMU, GIGI


Gemetar.

Aku sudah berdiri sejak lima menit yang lalu di depan pintu masuk kaca transparan bangunan putih ini. Rumah Sakit Prima Medika. Berkali-kali pula aku ditabrak lalu-lalang orang-orang yang hendak masuk ke dalamnya diiringi tatapan heran dan kesal mereka.

Biar saja, coba aja kalo mereka jadi aku..

Seorang satpam yang dari tadi memperhatikanku dengan tatapan curiga kini mendekatiku.

“Ada yang bisa saya bantu mba?”

Aku meringis menatap satpam itu. Bahkan menjawab pertanyaannya saja aku tak mampu. Buru-buru aku menggeleng kemudian berlari masuk ke dalam.

BRAK!!

“Aduuuuhh…”

Karena tidak hati-hati dan memperhatikan sekeliling aku bertabrakan dengan seseorang yang hendak masuk juga. Aku jatuh terduduk. Tiba-tiba kurasakan rasa sakit dari mulutku yang sedari tadi kutahan semakin menjadi-jadi. Aku mengusap mulutku.

Astaga. Darah!. Iya, ada darah segar keluar dari mulutku.
Air mataku mengalir. Sakit sekali..

“Maaf..Maaf..saya buru-buru jadi ga sengaja nabrak kamu..Hei, kamu baik-baik aja?Ayo kubantu berdiri..” sebuah suara lembut menyapaku, tangannya terulur padaku.

Seorang laki-laki tinggi berwajah tampan dan lembut dengan jas putihnya. Aku terpana melihatnya.

“Ya ampun…mulut kamu berdarah! Ayo sini, cepat diobati..” Lelaki itu panik melihatku yang berlinang air mata sambil memegang mulutku yang mengeluarkan darah.

Dengan lembut ia menuntunku masuk lalu berbicara dengan seorang wanita di bagian pendaftaran. Dari pembicaraan mereka aku tahu ternyata lelaki ini adalah seorang dokter gigi. Dan ia akan memeriksaku sebentar lagi.

Beruntung sekali kamu Tita.. Hal yang kamu takutkan dan hindari hari ini sekarang malah menghampirimu. Aku mendengus kesal. Apa sebaiknya aku kabur saja ya?

“Nah..” Lelaki dokter gigi itu kini menoleh padaku. “Kamu udah pernah berobat ke sini sebelumnya?”

Aku menggeleng. Ini pertama kalinya aku ke rumah sakit. Aku selalu ketakutan jika berurusan dengan rumah sakit, obat, jarum suntik, bahkan dokter.

“Kalau gitu kamu isi dulu formulir pendaftarannya. Nanti kamu akan diantar Suster Rita ke ruangan saya..” Dia mengangguk pada seorang wanita berwajah ramah yang entah dari mana datangnya sudah ada di sampingnya. Suster Rita tersenyum ramah padaku.

“Baiklah.. saya tunggu di ruangan ya..” Dia pun berlalu meninggalkanku yang masih terdiam menatap formulir pendaftaran poliklinik gigi itu.

Tolong, aku ga mau ke dokter gigi!!!, jeritku dalam hati. 

Tapi kalau dibiarkan sakit gigiku bisa bertambah parah. Akhirnya mau tak mau kuisi formulir itu. Setelah itu  aku diantar suster Rita menuju ruang praktek dokter itu. Sampailah aku di depan ruangan yang kutakuti. Poliklinik gigi dan mulut. Di depan pintunya ada papan nama bertuliskan Drg. Evan.

Ooo.. Jadi namanya Evan..

“Ga usah takut mba Tita.. Dokter Evan baik banget kok..Cakep lagi..iya kan?” Suster Rita menyemangatiku sambil mengedipkan mata padaku sebelum kami masuk ke dalam. Aku hanya meringis mendengarnya.

Suster ini genit juga, pasti seisi RS ini mengincar dokter Evan. Tapi walaupun cakep tetap saja semua dokter membuatku takut..

Dokter Evan menyambutku ramah. Setelah memeriksa data-dataku sebentar ia mempersilahkanku untuk berbaring di dental chair. Jantungku berdebar ketakutan melihat alat-alat kedokteran yang ada di depanku. Ini lebih dari sekedar mimpi buruk!. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku.

Namun ketakutanku perlahan hilang. Benar kata suster Rita, dokter ini baik sekali. Dia pintar sekali membujuk dan mengatasi ketakutanku. Yah walaupun begitu tetap saja aku menitikkan airmata saat gigiku yang sakit dicabut.

Keberuntunganku tak berhenti sampai di situ. Bahkan dokter itu sampai membiayai seluruh pengobatanku karena merasa bersalah dan bertanggung jawab telah memperparah sakit gigiku.

Dokter, tampan, baik hati pula.

Wajahku tiba-tiba panas saat melihat senyumnya. Jantungku berdebar kencang saat jemarinya menyentuh pipi dan bibirku saat ia memeriksaku.

Aku telah jatuh cinta dibuatnya.

Tak sabar rasanya menunggu hari kontrol gigiku yang berikutnya. Aku ingin bertemu dengannya lagi.

***

Tiga hari kemudian…

“Hah? Kenapa dokter Evan ga masuk sus?” aku terkejut kecewa. Padahal hari ini aku sudah berdandan cantik karena akan bertemu dengannya.

"Kok gitu ya sus, padahal dokter sendiri yang bilang sama saya supaya kontrol tiga hari lagi.." protesku.

“Iya mba Tita, jadi hari ini mba Tita akan ditangani oleh dokter yang lain karena dokter Evan menikah. . .”

Apa?? Dokter Evan… Menikah??

Penjelasan selanjutnya dari suster itu tak lagi kudengar. Rasa ngilu di gigiku yang kemarin sudah hilang kembali muncul.

Gigiku sakit lagi…
daripada sakit hati
lebih baik sakit gigi ini
biar tak mengapa
masih dapat kutahan
tapi ini sakit lebih sakit
kecewa… karena cinta
Meggy Z - Lebih Baik Sakit Gigi 


-tulisan ini untuk #30HariLagukuBercerita 

2 comments:

  1. yaaaa,, dokternya menikah... huhuh padahal dah bisa jadi obat yg baik utk Tita. hehehh


    btw saya juga ikutan di
    http://t.co/a1zPBIEz *promosi mode on :D

    xixixx

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya.. kalah cpet Tita-nya hehe

      Delete

Leave your comment please.. thank you ;)