Saturday, January 21, 2012

SENYUM UNTUKMU YANG LUCU

"Mia sebel... Mia ga mau sekolah besok!!" jeritku sepulang sekolah sambil melempar tasku ke arahmu.
Kamu dengan sigap menangkapnya.

"Kok gitu? Emang kenapa? Cerita dong Mia.." Kamu duduk di sebelahku lalu mengusap-usap rambutku.

"Mia sebel sama temen-temen Mia.. suka nyubitin pipi Mia.. kan sakit.."kataku perlahan sambil cemberut, pasti pipiku tambah tembam nih.

"Itu aja?? Ga ada yang lain? ya ampun Mia..Mia.. hahaha" katamu sambil tertawa geli dan membelalakkan matamu dengan jenaka.
Aku makin cemberut.
"Aaaaww.... sakitttt ayaaahhh...." teriakku. Kamu tiba-tiba mencubit pipiku, lalu menggendongku sambil mencium pipiku.

"Kalo udah dicium, ga sakit lagi kaan..." katamu masih dengan gayamu yang lucu.
Aku pun tak jadi marah dan tertawa bersamamu.




* * * *

Beberapa tahun kemudian...
Kita sedang bergandengan tangan memasuki gerbang kampus yang megah. Kampus yang jadi impian setiap anak-anak yang baru lulus sekolah.

"Duh Mia ga jadi kuliah di sini aja deh..." aku menatap sekelilingku.
Parkirannya penuh mobil bagus. Anak-anak yang datang dengan orang tuanya pun sepertinya dari keluarga berada. Pakaiannya pun bagus-bagus. Ah, aku minder.

"Kenapa? Mia kan udah belajar giat supaya keterima di sini. Sayang kan.." Katamu.
"Kata temen Mia kuliah kedokteran mahal Yah.. Mia kuliah di tempat yang murah aja deh.." jawabku.

Biaya kuliah kedokteran memang mahal, bahkan di fakultas negeri sekalipun. Rasanya tak tega membayangkanmu harus bekerja lebih keras lagi. Padahal aku tahu, perusahaan tempatmu bekerja hampir bangkrut.

Melihatku termenung, kamu berlutut di hadapanku sambil menggenggam tanganku.
"Mia.. Mia ga percaya sama ayah, kalo ayah bisa membiayai Mia sampai lulus? Coba bayangin, kalo Mia jadi dokter Mia kan bisa ngobatin kalo ayah sakit.. Enak kan kita ga perlu ke rumah sakit.." kamu berusaha membujukku.

"Mia percaya.. tapi Mia ga mau deh.. Mia mau bantuin ayah kerja aja, Mia jualan masakan Mia.. Siapa tau Mia bisa jadi kayak Farah Quin, masuk tivi.." kataku.

Kamu tertawa terbahak-bahak.
"Kalo gitu kamu jadi artis aja kalo pengen masuk tivi.. Lucu banget sih Mia ini.. Udah ah, pokoknya kamu tenang aja.. Buat Mia, apa sih yang engga.."

Lagi-lagi aku terkesan setiap kau membujukku dengan gayamu yang lucu itu.
Gaya khasmu, mengedipkan mata dengan jenaka lalu tersenyum lebar.




* * * *

Enam tahun berlalu..
Akhirnya tibalah hari sumpah dokterku. Setelah dua tahun yang lalu aku juga sudah wisuda sarjana.
Yang membuatku kesal hari ini,
Kamu ga datang.
Kamu harus menyelesaikan proyek di luar kota. Memang sejak aku kuliah kamu bekerja lebih keras. Kita pun jadi jarang bertemu. Aku sibuk, kamu pun sibuk. Namun kita selalu menyempatkan diri berkomunikasi, dengan apapun. Telepon, chatting, sms, semuanya. Seringnya sih aku mengeluh padamu namun lagi-lagi setiap melihat senyummu (yang kulihat dari webcam), aku jadi semangat lagi.

Ah, sedih rasanya di saat teman-teman yang lain didampingi orang tuanya sementara aku sendirian. Pacarku pun sedang sibuk berfoto dengan keluarganya.

Acara sudah selesai, pulang aja ah, pikirku.

"Tebaaakk... ini siapaaa???" Tiba-tiba mataku ditutup oleh sepasang tangan yang kasar, dan suara ini.. suara khas kamu.

"A- yaaaahhhh....." kataku setengah tak percaya.
Kamu pun membuka mataku. Kamu berdiri di hadapanku dengan kemeja lamamu dan sebuket bunga. Ah, juga dengan senyummu.

"Ayah dataaaangg..." aku memelukmu erat.
"Selalu ada kejutan untuk kesayangan ayah. Selamat ya dokter Mia.." Kamu mengecup keningku dan balas memelukku.
"Awww ayah, make up aku luntur deeehh.." gerutuku saat kamu mencubit pipiku.

Kamu berlari menjauhi pukulanku.
"Biariiin... hahaha" Kamu tertawa-tawa mengejekku. Aku pun ikut tertawa.