Sunday, January 13, 2013

MY AMAZING LIFE (PART 2)

Assalamualaikum..

Masih mau baca cerita tentang apa yang terjadi dalam hidup saya sekitar tiga bulan lalu? hehe berasa kayak orang penting gitu.. Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman kerja pertama saya di klinik kecantikan yang pusatnya di daerah Jakarta Timur dan telah memiliki banyak cabang dari Bekasi sampai Bintaro.

Hari pertama saya sangat bersemangat. Saya berangkat lebih awal karena saya agak lupa patokan belok tempat menuju klinik tersebut dan saya juga belum tahu harus naik angkutan nomor berapa. Saya sampai berganti angkutan tiga kali. Untunglah tidak sampai terlambat. Jam prakteknya mulai jam satu siang sampai sembilan malam (tergantung seselesainya tindakan sih sebenernya.. rekor pernah pulang dari klinik lewat dari jam 10 malam). Karena masih training jadi selama minggu pertama saya dan kakak senior yang diwawancara bareng saya hanya diperbolehkan melihat-lihat saja tindakan yang dilakukan oleh dokter senior yang sudah praktek tetap di situ dan juga dokter pemilik klinik. Kakak senior itu sebelumnya sudah pernah kursus kecantikan jadi dia sedikit banyak sudah tahu beberapa tindakan dan ilmunya. Beda dengan saya yang benar-benar masuk dengan otak kosong dan harus mempelajari tindakan yang tidak pernah saya dapat selama masa koass, kalau ilmu tentang kulit alhamdulillah saya masih ingat beberapa hehe..

Selama seminggu itu otak saya harus mengingat dengan cepat SOAP, tentang jenis-jenis peeling, microdermabrasi, dan lain-lain. Saya banyak bertanya dengan teman saya yang sudah minggu terakhir training, kakak senior dan dokter senior yang kebetulan satu almamater juga. Kata teman saya, kita ditraining selama sebulan lebih setelah itu ujian dulu sebelum dikontrak menjadi dokter tetap. Waduh ternyata sudah jadi dokter pun tidak lepas dari ujian yaa..

Kesan saya selama training di klinik kecantikan ini hmm kerjanya santai sih sebenarnya, tapi juga tegang. Kenapa? Karena kita bekerja pada orang, jadi seperti diawasi. Tapi kata teman saya, kalau kita ditempatkan di cabang kerjanya enak dan santai. Perawat-perawatnya juga bersahabat dengan kita. Enjoy-kah saya di klinik ini? Enjoy kok, saya mulai menikmati apalagi saya sudah mulai hapal jalur angkotnya sehingga tidak harus ganti berkali-kali juga sudah mulai akrab dengan perawat-perawatnya. Saya juga sudah mulai diberi kepercayaan untuk menerima pasien baru, peeling pasien, dan mengerjakan tindakan yang sederhana. Hanya saja orang tua saya kurang setuju saya bekerja di klinik kecantikan. Mereka berpikir kalau sekarang hanya kerja di salon (mereka menyebutnya begitu) ngapain dulu sekolah dokter mahal-mahal?. Sekolah aja yang murah lalu kursus kecantikan. Mereka sangat mengharapkan saya bekerja di rumah sakit atau yang mengabdi untuk orang-orang tidak mampu. Karena saya masih muda dan fresh graduated, masih harus mencari banyak pengalaman. Hal itu sempat menjadi dilema bagi saya. Saya berdoa semoga saya lekas mendapat pekerjaan seperti yang orang tua saya harapkan.

Sampai suatu hari, di minggu ketiga.. Saya ingat betul itu hari senin di pertengahan Oktober 2012 lalu. Saya menerima telepon dari nomor yang tidak saya kenal namun awal nomornya kode wilayah Bogor. Hati saya mulai dag dig dug, jangan-jangan dari rumah sakit yang dulu pernah menginterview saya. Benar saja, setelah hampir sebulan tidak ada kabar berita saya diterima atau tidak akhirnya pihak SDM RS mengabari saya untuk tanda tangan kontrak besok. Saya gemetaran, panik. Di satu sisi saya senang karena saya dalam hati saya memang ingin resign, di sisi lain saya belum siap untuk bekerja di RS!. Saya pun meminta waktu untuk menelepon orang tua pada SDM itu. Langsung saja saya menelepon ayah dan bunda. Sesuai dugaan, mereka senang sekali. Apalagi mendengar saya sebenarnya juga mau resign dari klinik. Akhirnya tanpa pikir lagi saya putuskan untuk resign hari itu juga yang tentu saja mengejutkan pemilik klinik dan juga perawat-perawat. Saya hampir menangis saat berpisah dengan mereka dan juga dokter dan kakak senior. Tapi mereka mengerti alasan saya sehingga mendukung saya. Saya pun sangat berterimakasih atas kesempatan dan ilmu yang mereka berikan kepada saya.

Lalu..

Galaulah saya setelah itu. Galau karena kok bisa secepat itu saya membuat keputusan. Padahal saya tau kemampuan saya, saya benar-benar belum siap untuk masuk RS. Ketakutan kembali membayangi saya. Tapi saya sudah tidak bisa mengelak karena besok tanda tangan kontrak dengan RS. Singkat cerita, esoknya saya pun datang ke RS diantar ayah dan bunda. Saya hanya mengucap bismillah saat menandatangani surat kontrak kerja, semoga ini keputusan yang benar. Walaupun saya ga siap, tapi jika orang tua ridho, insya Allah semuanya lancar. Amin...


to be continued . . .




No comments:

Post a Comment

Leave your comment please.. thank you ;)