Monday, February 13, 2012

DARK CHOCOLATE



"Lagi bikin apa?" kepalamu menyembul dari balik pintu dapur.

Aku menoleh sekilas ke arahmu. Mata mengantukmu masih jelas terlihat.

"Bikin coklat.. Sini, aku udah buatin kopi.."

Kamu mendekatiku, mencium lembut pipiku lalu mengambil segelas kopi yang telah kusiapkan. Kamu mengambil kursi untuk duduk di dekatku lalu menyeruput kopimu pelan-pelan.

"Buat pesenan valentine?" tebakmu.

Aku mengangguk. Bisnis catering yang kujalani setahun belakangan saat ini sedang laris manis. Apalagi menjelang valentine begini, pesanan coklat meningkat. Sebenarnya aku sempat kewalahan menerima pesanan-pesanan itu karena semuanya kukerjakan sendiri. Akhirnya mau tak mau beberapa pesanan kutolak dengan berat hati.

"Aku temenin yah.." katamu sambil melihat-lihat apa yang kukerjakan. Aku hanya mengangguk lalu meneruskan memotong-motong coklat.

Kamu memain-mainkan telur, tepung terigu, dan bahan-bahan lain yang ada di meja. Aku tersenyum geli saat kamu mengoleskan tepung ke wajahmu sendiri lalu bertingkah lucu seperti anak kecil.

"loh ini ada coklat yang udah jadi.." kamu mengambil sebatang coklat yang sudah terbuka setengahnya.

"itu namanya dark chocolate sayang.. itu bahan dasarnya..nanti dilelehin trus dicampur sama bahan-bahan lain..eeehh jangan dimakan.."

Terlambat. Kamu sudah mengunyah coklat hitam itu. Wajahmu berubah seketika saat menelannya. Kemudian kamu berusaha mengeluarkannya lagi ke tempat cucian piring. Aku tergelak melihat tingkahmu.

"Bueh.. pahit banget.. coklat kok pahit sih" gerutumu. Masih sambil tertawa aku memberikanmu segelas air putih. Kamu langsung meneguknya sampai habis.

"Aku kan belum selesai jelasin tadi, kamu asal comot aja.. dark chocolate emang gitu rasanya.. makanya untuk bisa dimakan ya harus dicampur sama bahan yang lain dulu.."

Kamu mengangguk-angguk, lalu kembali duduk di sampingku. Aku kembali meneruskan pekerjaanku. Kali ini aku memperingatkanmu untuk tidak mengerecokiku lagi. Akhirnya kamu hanya diam dengan kopimu sambil memperhatikanku.

"Cinta itu berarti kayak dark chocolate ya.." katamu tiba-tiba. Aku mengendik ke arahmu sekilas.

"Pahit awalnya, tapi setelah bercampur dengan hal-hal lain yang menyenangkan rasanya jadi enak.. seperti.. cinta kita.." kamu meneruskan perkataanmu.

Aku terdiam sejenak. Mencerna ucapanmu, lalu menggeleng.

"Memangnya mencintai seperti kita ini.. enak? jadi itu yang kamu rasakan?" aku menatapmu tajam."Menurutmu cinta kucing-kucingan seperti ini.. enak?" lanjutku.

Kamu bangkit dari kursimu, lalu memelukku dari belakang, menciumi tengkuk dan rambutku.

"Apapun jalannya..bagaimanapun caranya kita mencinta..bagiku itu tetap terasa indah. Memang pahit rasanya menjalin cinta seperti ini, tapi cobalah kamu resapi dari sisi yang lain, kamu pasti dapat merasakan manisnya.." katamu lembut di telingaku.

Kali ini aku benar-benar menghentikan pekerjaanku. Bagaimana aku bisa konsentrasi kalau kamu seperti ini.

Akhirnya aku nikmati pelukanmu. Kita pun berpelukan, berciuman mesra. Ah mungkin kamu benar, masih ada rasa manis dalam cinta 'dark chocolate' kita ini.

"Lihat, selalu ada kesempatan kan untuk merasakan manisnya cinta kita?Seperti pagi ini.." katamu sambil menatapku. Aku tersenyum, mengecup bibirmu kilat, lalu mencoba melepaskan pelukanmu.

"Udah ah sayang.. ntar ada yang ngeliat.." sedikit meronta kulepaskan kedua tanganmu yang masih melingkar di pinggangku. Tapi kamu malah mempererat pelukanmu.

"Sebentar lagi yah.. aku masih kangen.. setelah ini kan aku harus pergi lagi.."

Aku menghela napas pasrah. Kuteruskan memotong-motong dark chocolate tadi dengan kamu yang masih erat memelukku.

Aku pun masih merindukanmu.. tapi bagaimana nanti kalau ada yang melihat kita seperti ini..

Terdengar suara langkah-langkah kaki menuruni tangga. Sebuah suara memanggilku. Aku menyahutinya. Spontan kamu melepaskan pelukanmu, kembali ke kursimu, lalu menyeruput kopimu yang hampir dingin.

"Pagi sayang..." sosok suara yang memanggilku tadi kini muncul di pintu dapur. Ia pun menyapamu dan kamu balik menyapanya. Kemudian ia menghampiriku, memeluk dan mengecup lembut keningku. Suamiku, kakak kandungmu.

Kulihat dari sudut mataku kamu pura-pura menunduk, mengambil sebatang dark chocolate yang masih tersisa di meja, lalu memakannya. Dan lagi-lagi kamu pun memuntahkannya.

Sayang, bukankah tadi sudah kubilang kalau itu pahit rasanya?.

No comments:

Post a Comment

Leave your comment please.. thank you ;)